Selasa, 29 November 2011

Yuuk gabung denganku...sembari belajar dan en dapat bonus yang hmmm...pengen tahu? klik aja :
http://www.BelanjaBulananOnline.com/?id=adewirahmad

Rabu, 05 Oktober 2011

KETIKA CINTA KEMBALI MENYAPA


Hari ini tepat setahun kesendirianku sejak perceraian itu terjadi, rasanya masih seperti kemarin. Setahun ini bagiku seperti masa pemulihan dari sebuah sakit yang amat sangat perih. Dengan susah payah kutata kembali kehidupanku perlahan – lahan kembali kudapatkan kekuatan untuk menapaki kehidupanku. Diluar sana gerimis masih membahasi jalanan, pikiranku melayang pada semua yang terjadi saat itu, kejadian itu kembali menari dipelupuk mataku.
Siang itu aku pulang dari kafe milikku mengambil handphoneku yang tertinggal dirumah. Bagiku benda itu sangat penting bagiku karena dengan itu para pelangganku dapat menghubungiku karena selain kafe aku pun menyediakan jasa catering untuk acara pesta. Kulangkahkan kakiku memasuki rumah tanpa ada perasaan curiga sedikitpun, kutapaki tangga menuju kamar tidur kami yang berada dilantai dua. Saat pintu kamar terbuka betapa terkejutnya aku melihat Andre bersama wanita yang tak kukenal, mereka berdua pun tak kalah terkejutnya. Setelah merapikan diri Andre mengejarku. Pertengkaran pun tak dapat terelakkan amarahku membuncah aku merasa dibohongi, ditipu, dikhianati dan yang paling parah lagi Andre membawa wanita itu kerumah khususnya dikamar kami. Harga diriku serasa diinjak – injak,aku sama sekali tak dihargai oleh orang yang kupercaya, kucintai selama ini dengan sepenuh hatiku. Air mataku berurai deras, dengan setengah berlari kuturuni tangga hingga tak kusadari kakiku terpeleset, aku terguling kebawah namun aku masih bisa berusaha untuk berdiri, namun betapa kembali terkejutnya aku saat kulihat betisku berdarah. Ya Allah baru kuingat akan kehamilanku yang baru berusia empat minggu, aku berusaha bangkit  Andre mencoba menolongku namun kutampik dengan kasar kebencianku berada pada titik didih tertinggi. Dengan susah payah aku berusaha menuju Rumah Sakit terdekat, disana aku segera ditangani dengan cepat oleh Dokter dan Perawat, namun apa dikata segala upaya telah dilakukan oleh paramedis tersebut, namun pendarahan yang aku alami sangat parah akhirnya aku harus pasrah bahwa aku telah kehilangan cabang bayiku yang selama ini kunanti dan kujaga dengan sepenuh hatiku. Aku tak mampu berkata, bibirku kelu, aku hanya pasrah. Yang ada dalam benakku hanyalah segera menggugat cerai Andre.
Ketika hakim menjatuhkan palunya pertanda resmi sudah perceraianku dan Andre, saat berpapasan kulihat tatapan yang mengandung penyesalan, namun tak kugubris kuberlalu dengan langkah pasti meninggalkan gedung pengadilan menuju kafe sekaligus rumahku saat ini. Disini kukembali menata hidupku yang sempat porak poranda, kujalankan lagi usahaku seperti biasanya karena selama aku sibuk mengurus persidangan Freya sahabat sekaligus partnerku yang mengurus segalanya. Kusibukkan diri dengan kegiatan – kegiatan sosial, ku ingin membagi kebahagian dengan mereka yang tak bisa mendapatkan segalanya.
Lamunanku terhenti saat Freya mengetuk pintu,
« Ada apa ?, » tanyaku.
« Andira looking for you, » jawabnya. Freya adalah seorang wanita kulit hitam yang manis memiliki dua orang anak yang lucu – lucu, walaupun tak terlalu lancar menggunakan bahasa Indonesia tapi ia mengerti apa yang kuucapkan. Yap, aku tinggal dinegeri orang karena dibawa oleh tanteku yang menikah dengan warga negara asing, aku telah dianggap anak oleh keduanya meskipun mereka telah memiliki tiga orang anak. Mereka membawaku karena kejadian tragis yang menimpa orang tuaku, mereka tewas dalam kecelakaan pesawat saat ku masih berusia dua belas tahun.
“Ok, I’ll be right there”, jawabku. Segera berjalan untuk menemui seseorang tersebut. Ternyata Andira, dia pengelola dari panti asuhan yang baru saja kami dirikan bersama – sama dengan teman lain dari berbagai macam suku bangsa.
“Apa kabar, lama tak jumpa,” ujarku sembari memeluknya sesaat.
“Baik,” jawabnya singkat lengkap dengan senyuman.
Kami menuju tempat duduk, kutatap wajahnya terlihat serius sepertinya ada hal yang ingin disampaikan olehnya.
“Begini Cin, ternyata dana yang kita miliki masih kurang, untuk keperluan dapur. Aku sudah berusaha membaginya dengan baik tapi memang masih kurang,” ujarnya dengan serius.
Freya datang menyuguhkan cappuccino untuk Andira lalu ikut bergabung menyimak yang kami bicarakan.
“Tapi dana yang dari para donator masih ada kan,” tanyaku.
“Ada, tapi kusimpan untuk keperluan lain jaga – jaga kalau ada anak yang sakit, seperti kemarin Tomy demam terpaksa harus kubawa ke dokter,”.
Kupersilahkan dia untuk meminum minumannya, sembari berpikir. Andira menyeruput minumannya. Aku masih belum menemukan jalan keluarnya, mungkin otakku masih beku oleh lamunan tadi. Kutatap Freya untuk meminta idenya, dia hanya mengangkat bahu berarti ia pun belum menemukan jalan keluarnya.
“Apa dana itu diperlukan segera An,” tanyaku
“Cepat sih nggak, tapi dana itu memang diperlukan juga pada akhirnya.”
Aku mengangguk mengerti. “Oke, nanti aku pikirkan caranya,” jawabku sambil tersenyum pada Andira.
“Sorry, jadi merepotkan kamu Cin,” ujar Andira
“It’s ok, lagipula itu juga kewajibanku,” jawabku sambil memegang bahunya. Sesaat kemudian kami bertiga lebur dalam perbincangan, Andira bercerita tentang tingkah polah anak – anak panti. Tak terasa satu jam berlalu, Andira pamit pulang.
“Ok, kalau begitu aku pulang dulu," ujarnya sembari berdiri lalu memelukku dan Freya.
“Hati – hati ya, titip salam untuk anak – anak," kataku.
Sepeninggalnya Andira aku masih memikirkan cara agar bisa mendapatkan dana tersebut namun karena pelanggan berdatangan aku segera menyapa mereka seperti biasanya dan mencatat pesanan mereka. Freya sering protes padaku bila aku melalukan hal ini, tapi aku suka meskipun kami memiliki pelayan. Siang ini kafe lumayan banyak pengunjungnya sehingga tempat yang kami sediakan terisi penuh semua. Terima kasih ya Allah atas rezeki yang Kau berikan hari ini, bisikku dalam hati. Dimeja kasir kulihat Freya tersenyum bahagia padaku.
Pagi ini matahari seperti enggan menampakkan sinarnya, mendung bergelayut diatas sana. Kubolak – balik Koran pagi ini mencari berita yang menarik, mataku terhenti dikolom iklan ada yang menarik disana.
Dibutuhkan segera pengasuh sementara anak laki-laki berusia berusia lima tahun. Alamat        sertakan biodata lengkap anda.
Aha….kujentikkan jariku, aku memandang kearah Freya yang bingung meminta penjelasan dengan tatapannya. Kutunjukkan kolom iklan itu padanya, tapi rupanya dia masih tak mengerti maksudku.
"What….I still don’t understand." Katanya
"This the solution Freya, dana itu, untuk panti," ujarku
Matanya yang sudah bulat itu terbelalak hingga aku setengah tertawa karenanya.
"Maksudmu, kamu mau jadi pengasuh mencari dana untuk panti," tanyanya meyakinkan diri.
"Exactly," kataku mantap.
"Berapa lama, kamu mau jadi pengasuh selamanya?."
"Off course not, it’s just for awhile, look," jawabku kembali menunjukkan iklan.
"Apa tidak ada jalan lain," ujarnya kembali
"Apa salahnya mencoba, belum tentu langsung diterima bukan," ujarku sambil mengambil roti panggang sarapanku.
"Terserah kamu, tapi hati – hati ya," katanya lagi.
Aku mengangguk setuju, begitulah Freya dia selalu mengingatkan siapapun di kafe ini terutama karyawan kami apabila hendak melakukan sesuatu. Dia sudah seperti saudara bagiku. Aku segera menyiapkan biodata seperti yang tertera diiklan tersebut.
Keesokan paginya aku mencari alamat yang tertera diiklan itu, setelah mencari beberapa lama akhirnya aku menemukan rumah itu, tamannya tertata rapi bunga mawar dan lily tumbuh dengan subur dan mekar dengan indahnya. Kutarik lalu kuhembuskan kembali nafasku sebelum kumemencet bel. Sesaat kemudian seorang wanita cantik membuka pintu sembari tersenyum.
"Rumah keluarga Miller?," tanyaku dalam bahasa Inggris.
"Yes, and you must be Cindy?," tebakknya. "You can call me Amira,"sambungnya.
"Yes."
"Silahkan masuk, kami sudah menunggumu sejak tadi,"jawabnya dengan bahasa Indonesia yang sangat lancar. Aku terkejut mendengarnya.
"Kami mempunyai paman yang menikah dengan orang Indonesia, jadi kami belajar dari tante," jelasnya karena melihat keterkejutanku.
"Ya, benar kata orang kalau dunia itu kecil," jawabku sambil mengikutinya dari belakang. Kemarin saat membuat janji aku memang sudah menceritakan sedikit tentang diriku pada mereka.
Diruang keluarga itu ada seorang anak sedang bermain dengan robotnya, dia menoleh saat kami datang lalu kemudian duduk disamping ibunya.
"Ini anakku Ryan, pengasuhnya yang dulu sedang cuti karena ibunya sedang sakit,jadi terpaksa aku harus mencari penggantinya sementara," jelasnya padaku.
"Hi, Im Cindy. Nice to meet You Ryan," ujarku sambil mengulurkan tangan kepada Ryan.
Ia pun menyambut tanganku,lalu mengucapkan namanya. Lalu kemudian mengambil tempat duduk disebelahku. Ia membawaku untuk memainkan robotnya.
"Sepertinya Ryan suka denganmu, sebelumnya ada pelamar lain tapi dia takut lalu sembunyi dibelakangku, well Cindy sepertinya kamu diterima karena dia yang memutuskannya," ujarnya.
Aku tersenyum sembari memainkan robot yang diberikan Ryan padaku. "Terima kasih."
Sesaat kemudian Amira menjelaskan kepadaku apa saja yang harus kulakukan dalam mengurus Ryan, mulai dari makanan, cara memandikan, jamnya istirahat, serta hal lainnya dan menunjukkan kamar tidur anak semata wayangnya itu. Lalu ia menunjukkan kamar disebelah kamar Ryan.
"Ini kamar adikku, namanya Peter tapi ia jarang tidur disini karena ia tinggal asrama kampus hanya saat sedang ada waktu dia biasanya kesini menjenguk Ryan," ujarnya.
Lalu kami menuruni tangga Ryan memegang tanganku sambil tersenyum lebar sepertinya ia senang dengan kehadiranku, sesampainya dibawah Ryan membawaku untuk menggambar namun Amira memintanya untuk menunggu dulu karena dia akan membahas tentang jumlah gajiku. Ia pun tak keberatan saatku meminta separuh gajiku dulu karena aku memerlukannya. Sejak saat itu mulailah aku bekerja dikeluarga Miller. Aku menikmati pekerjaanku, Ryan anak yang lucu walau terkadang ia juga bisa susah diurus.Kedua orang tuanya pun ramah terhadapku, sehingga aku merasa betah dengan pekerjaan ini.Bahkan mereka pernah mengajakku untuk berlibur ke tempat orang tuanya namun kutolak karena aku ingin mengurus kafe dan panti selama mereka berlibur.Tentu saja mereka tak mengetahui hal itu, aku merahasiakannya.
Hari ini aku dan Ryan sibuk menyusun mainan Leggo agar menjadi sebuah rumah, tiba – tiba bel pintu berbunyi. Seperti biasanya Ryan selalu berusaha mendahuluiku untuk membukakan pintu, saat pintu terbuka Ryan menghambur kepelukan lelaki muda yang didepannya, seraya berkata "Uncle Peter." Laki – laki itu pun memeluknya erat, sambil menanyakan kabarnya. Sambil menggendong Ryan, dia mengulurkan tangannya padaku.
"Kau pasti Cindy," ujarnya lugas. Aku pun mengulurkan tanganku sambil menjawab dan entah mengapa ada getar aneh dihatiku saatku menjabat tangannya namun segera kutepis.
"Ryan sering menceritakan dirimu lewat telpon padaku, sepertinya ia sudah mulai lupa dengan pengasuhnya yang dulu," ceritanya.
"Namanya juga anak – anak, nanti pun kalau aku sudah tidak disini lagi pasti ia pun begitu," jawabku sambil mengikuti mereka berdua dari belakang. Tak ada rasa canggung antara aku dan Peter, orangnya cepat sekali beradaptasi. Sehingga tak terasa hari berlalu saatnya aku untuk pulang, namun orang tua Ryan tak kunjung datang, jam sudah menunjukkan pukul enam tigapuluh biasanya mereka datang lebih cepat. Tiba – tiba handphoneku berbunyi dari ibunya Ryan, ia mengatakan kalau mereka berdua tak dapat pulang segera karena menghadiri undangan kolega suaminya. Ini berarti aku harus disini sampai mereka kembali sebenarnya aku bisa menitipkannya pada Peter namun Ryan ingin aku yang menidurkannya. Aku pun membawanya ketempat tidur lalu membacakan cerita untuknya beberapa saat kemudian ia pun tertidur, segera kurapikan selimutnya dan aku baru menyadari kalau aku belum makan malam. Aku bergegas turun untuk merapikan mainan Ryan yang berantakan tetapi rupanya Peter sudah merapikannya. Aku pun menuju dapur disana Peter sedang memasak sesuatu, sepertinya lasagna wanginya begitu terasa membuatku semakin lapar. Peter tersenyum begitu mengetahui kedatanganku seraya bertanya "Lapar?."
"Sangat," jawabku tanpa ragu. Aku pun membantunya menyiapkan piring dan air minum. Sesaat kemudian kami pun menyantap lasagna tersebut.
"Bagaimana masakanku," tanyanya kembali sesaat setelah kumasukkan lasagna kemulutku.
"Enak." Sahutku sambil kembali makan
"Betul enak atau enak karena kamu sedang kelaparan," sambil menatapku sehingga aku jadi agak salah tingkah.
Aku mengacungkan dua jempolku karena mulutku sedang penuh, Peter tersenyum melihatnya. God….senyumnya manis sekali hei…what’s wrong with me teriak batinku. Waktu berjalan dengan cepat, Peter banyak bercerita tentang dirinya, bahwa dia mahasiswa tingkat akhir jurusan pertambangan, punya usaha bengkel yang baru dimulainya setahun yang lalu, punya tiga sahabat yang ternyata sepupunya semua, ia bahkan menunjukkan foto mereka berempat dari dompetnya. Dahiku mengerenyit kenapa tak ada foto teman wanitanya didompet itu, rupanya Peter dapat membaca pikiranku. Dia pun mengatakan kalau dia sedang tak ada teman wanita yang dekat saat ini, dan entah mengapa ada pojok hatiku yang lega mendengarnya. Pembicaraan kami terhenti saat bel pintu berbunyi kedua orang tua Ryan telah datang. Aku segera pamit pulang karena jam sudah menunjukkan jam Sembilan tepat, Amira sempat meminta maaf dan ia menawarkan Peter untuk mengantarku pulang aku pun menyetujuinya, karena tadi pagi aku menggunakan taksi ke sini skuter yang selalu kupakai sedang dibengkel.Sepanjang perjalanan kami tak hentinya berbicara tentang apa saja, akhirnya kami pun sampai didepan kafe.
“Kamu tinggal disini?,” Tanya Peter. "Ini milikmu ?," sambungnya.
Aku tersenyum melihat keterkejutan kecil diwajahnya dan segera mengiyakan pertanyaannya yang beruntun itu. Aku mempersilahkan Peter masuk ternyata Freya masih ada didalam aku segera memperkenalkan keduanya, dia masih menghitung semua untuk hari ini. Beberapa saat kemudian, Peter pamit pulang. Sepulangnya Peter, Freya memberondongku dengan pertanyaan, aku pun menjawab apa adanya.
"Jangan tutup hatimu, sepertinya dia suka denganmu." Ujarnya mengikutiku menapaki tangga menuju kamarku dilantai dua.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu,aku kenal saja baru beberapa jam."
"Mataku ini tidak buta."
"Dia lebih muda tiga tahun dariku Freya."
"Lho, memang kenapa, banyak pasangan yang lelakinya lebih muda malah langgeng. Lihat saja Kim dengan Justin." Dia menyebutkan salah satu sahabat kami. Kuhempaskan tubuhku  di tempat tidur, Freya pun melakukan hal yang sama. Kelelahan terasa saat tubuh berada ditempat tidur. Kutatap langit – langit kamarku yang ada disitu……Peter. Kugelengkan kepalaku menghalau hal itu. Freya memiringkan tubuhnya menghadap kearahku.
"He's a nice guy, I like him." Ujarnya meyakinkan ku.
"Biar waktu yang menjawabnya," ujarku pula.
Freya tersenyum, lalu bangkit dari tempat tidur ia ingin bersiap pulang. Sepeninggalnya Freya aku bergegas membersihkan diri, untuk segera tidur. Saat kantuk menderaku, sisi hatiku terbersit tanya "Mungkinkah dia orangnya ?."

Bersambung...

Rabu, 17 Agustus 2011

apa yang dibenak wanita menikah


Apa yang ada dipikiran wanita saat ia menyatakan dia akan menikah???. Dream come true, kehidupan indah seperti fairy tale, dimana sang pangeran datang dan membawanya ke rumah yang nyaman penuh dengan kehangatan dan cinta setiap harinya. Pelukan hangat saat bangun pagi, kecupan mesra dikening saat pasangannya datang, breakfast ditempat tidur saat akhir pekan, hadiah kejutan dihari jadi, sms mesra ketika berjauhan, tatapan nan hangat, kata – kata yang lembut,  dan  sebagainya yang berbau romantisme. Mungkin entah berapa juta wanita didunia ini pasti akan mendambakan hal seperti itu, kurasa semuanya akan mengangkat tangan.
Atau….berapa lama hal itu akan dirasakan oleh setiap pasangan yang telah menikah, satu, dua, atau lima tahun. Untuk angka lima tahun acung jempol bila ada yang masih seperti pengantin baru. Para wanita biasanya kadang merasa seperti bangun dari mimpi indah, karena saat tersadar bukan itu yang terpampang dihadapannya. Fase adaptasi dimulai dengan kebiasaan yang tak terlihat sebelumnya dari pasangan atau yang semula dipikirannya kebiasaan yang tak menyenangkan dari pasangan akan berubah seiringnya waktu (mungkin ada yang bisa berubah) namun sepertinya lebih banyak tidaknya.
Saat keluarga kecil telah terbangun maka mulailah kesibukan – kesibukan yang tak terlintas dibenak sebelumnya, mulai dari mengurus suami, anak, rumah, belum lagi pekerjaan dikantor yang menuntut segera selesai. Saat itulah terasa bahwa kebutuhan untuk diri sendiri mulai tak lagi dapat terpenuhi sepenuhnya. Seperti hang out dengan teman lama, mendengarkan musik, membaca buku, atau hal kecil saja seperti menonton tv semua nya mesti berbagi dengan si kecil. Ada kerinduan dengan segala hal yang dapat dilakukan sebelum menikah, namun hati kecil yang lain mengatakan inilah konsekuensi yang telah dipilih. Namun…tak sedikit pula wanita dapat melakukan semua kegiatan untuk dirinya meski telah menikah.
Mungkin selama ini para wanita  selalu menonton film  yang bertema romantis, sehingga mempengaruhi dibawah alam sadarnya tepatnya seperti sebuah chip yang tertanam disalah satu kisi otak dan hatinya. Atau mempunyai kehidupan lain alias imajinasinya tentang pernikahan yang ideal menurut versinya sendiri, sehingga terkadang mesti kecewa dengan apa yag terpampang di setiap harinya. Mau tak mau untuk berkata welcome to the real world, dimana romantisme tak bisa diatur sesuai dengan keinginan anda, kenyataan bahwa tak bisa merasa jatuh cinta setiap harinya pada pasangan. Tentunya pasangan anda pun pasti punya keinginan yang pastinya anda tidak mengetahuinya, kadang orang mengatakan kenapa tidak dikatakan saja. Terkadang untuk mengungkapkan sesuatu ada begitu banyak pertimbangan yang dipikirkan, tapi ada juga personal yang bisa mengutarakan isi hatinya tentunya itu akan sangat membantu dalam suatu hubungan.

Selasa, 02 Agustus 2011

Hukum Shalat ‘Id Bagi Wanita

Hukum Shalat ‘Id Bagi Wanita


Pertanyaan:
“Apakah shalat ‘Id wajib bagi wanita? Jika wajib, apakah dikerjakan di rumah atau di mesjid?”

Jawaban:
Alhamdulillah.
Mengerjakan shalat ‘Id bukanlah sebuah kewajiban bagi wanita, namun yang benar adalah sunnah. Dan shalat tersebut dilaksanakan di tempat dilaksanakannya shalat id bersama kaum muslimin. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para wanita untuk melakukan yang demikian itu.

Di dalam kitab Ash-Shahihain dan selainnya, diriwayatkan dari Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Kami diperintahkan –dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami– untuk keluar pada hari id, baik budak wanita maupun wanita yang berada dalam pingitan, serta wanita yang sedang haid untuk mendatangi tempat dilaksanakannya shalat ‘Id oleh kaum muslimin.” (HR. Bukhari No.1/93 dan Muslim No.890)
Dalam riwayat lain disebutkan, “Kami diperintahkan untuk keluar. Para budak maupun wanita yang berada dalam pingitan pun juga diperintahkan demikian.”
Dalam riwayat At-Tirmidzi, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para perawan, budak, wanita yang berada dalam pingitan, serta wanita haid. Adapun wanita haid, maka mereka memisahkan diri dari tempat shalat dan mereka menyaksikan dakwah kaum muslimin. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang di antara para wanita tidak memiliki jilbab.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya.’”
Dalam riwayat An-Nasa’i, “Hafsah binti Sirin berkata, ‘Ummu Athiyah tidak mengingat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali perkataannya, ‘Demi ayahku,’ Aku berkata, ‘Apakah engkau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan demikian dan demikian?’ Ummu Athiyah berkata, ‘Ya, demi ayahku.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah para budak, wanita yang dipingit, dan wanita yang sedang haid menghadiri shalat ‘id dan memenuhi panggilan kaum muslimin. Serta hendaklah wanita haid menjauhi tempat shalat.’” (HR. Bukhari: 1/84)
Berdasarkan dalil-dalil tersebut, tampak bahwa keluarnya wanita untuk menghadiri shalat idul fitri dan shalat idul adha merupakan sunnah muakkad (sangat dianjurkan), namun dengan syarat mereka menutup aurat dengan benar, tidak bertabarruj (berhias diri), sebagaimana yang telah kita ketahui dari dalil-dalil yang lain. Adapun tentang keluarnya anak-anak yang telah tamyiz (bisa membedakan baik dan buruk, ed) untuk melaksanakan shalat ‘Id, shalat jumat, dan selain kedua shalat tersebut, maka hal tersebut merupakan perkara yang ma’ruf dan disyariatkan, berdasarkan dalil-dalil yang banyak mengenai hal tersebut. Hanya Allah yang memberikan taufik.
Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia): 8/284―286