Rabu, 17 Agustus 2011

apa yang dibenak wanita menikah


Apa yang ada dipikiran wanita saat ia menyatakan dia akan menikah???. Dream come true, kehidupan indah seperti fairy tale, dimana sang pangeran datang dan membawanya ke rumah yang nyaman penuh dengan kehangatan dan cinta setiap harinya. Pelukan hangat saat bangun pagi, kecupan mesra dikening saat pasangannya datang, breakfast ditempat tidur saat akhir pekan, hadiah kejutan dihari jadi, sms mesra ketika berjauhan, tatapan nan hangat, kata – kata yang lembut,  dan  sebagainya yang berbau romantisme. Mungkin entah berapa juta wanita didunia ini pasti akan mendambakan hal seperti itu, kurasa semuanya akan mengangkat tangan.
Atau….berapa lama hal itu akan dirasakan oleh setiap pasangan yang telah menikah, satu, dua, atau lima tahun. Untuk angka lima tahun acung jempol bila ada yang masih seperti pengantin baru. Para wanita biasanya kadang merasa seperti bangun dari mimpi indah, karena saat tersadar bukan itu yang terpampang dihadapannya. Fase adaptasi dimulai dengan kebiasaan yang tak terlihat sebelumnya dari pasangan atau yang semula dipikirannya kebiasaan yang tak menyenangkan dari pasangan akan berubah seiringnya waktu (mungkin ada yang bisa berubah) namun sepertinya lebih banyak tidaknya.
Saat keluarga kecil telah terbangun maka mulailah kesibukan – kesibukan yang tak terlintas dibenak sebelumnya, mulai dari mengurus suami, anak, rumah, belum lagi pekerjaan dikantor yang menuntut segera selesai. Saat itulah terasa bahwa kebutuhan untuk diri sendiri mulai tak lagi dapat terpenuhi sepenuhnya. Seperti hang out dengan teman lama, mendengarkan musik, membaca buku, atau hal kecil saja seperti menonton tv semua nya mesti berbagi dengan si kecil. Ada kerinduan dengan segala hal yang dapat dilakukan sebelum menikah, namun hati kecil yang lain mengatakan inilah konsekuensi yang telah dipilih. Namun…tak sedikit pula wanita dapat melakukan semua kegiatan untuk dirinya meski telah menikah.
Mungkin selama ini para wanita  selalu menonton film  yang bertema romantis, sehingga mempengaruhi dibawah alam sadarnya tepatnya seperti sebuah chip yang tertanam disalah satu kisi otak dan hatinya. Atau mempunyai kehidupan lain alias imajinasinya tentang pernikahan yang ideal menurut versinya sendiri, sehingga terkadang mesti kecewa dengan apa yag terpampang di setiap harinya. Mau tak mau untuk berkata welcome to the real world, dimana romantisme tak bisa diatur sesuai dengan keinginan anda, kenyataan bahwa tak bisa merasa jatuh cinta setiap harinya pada pasangan. Tentunya pasangan anda pun pasti punya keinginan yang pastinya anda tidak mengetahuinya, kadang orang mengatakan kenapa tidak dikatakan saja. Terkadang untuk mengungkapkan sesuatu ada begitu banyak pertimbangan yang dipikirkan, tapi ada juga personal yang bisa mengutarakan isi hatinya tentunya itu akan sangat membantu dalam suatu hubungan.

Selasa, 02 Agustus 2011

Hukum Shalat ‘Id Bagi Wanita

Hukum Shalat ‘Id Bagi Wanita


Pertanyaan:
“Apakah shalat ‘Id wajib bagi wanita? Jika wajib, apakah dikerjakan di rumah atau di mesjid?”

Jawaban:
Alhamdulillah.
Mengerjakan shalat ‘Id bukanlah sebuah kewajiban bagi wanita, namun yang benar adalah sunnah. Dan shalat tersebut dilaksanakan di tempat dilaksanakannya shalat id bersama kaum muslimin. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para wanita untuk melakukan yang demikian itu.

Di dalam kitab Ash-Shahihain dan selainnya, diriwayatkan dari Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Kami diperintahkan –dalam riwayat lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami– untuk keluar pada hari id, baik budak wanita maupun wanita yang berada dalam pingitan, serta wanita yang sedang haid untuk mendatangi tempat dilaksanakannya shalat ‘Id oleh kaum muslimin.” (HR. Bukhari No.1/93 dan Muslim No.890)
Dalam riwayat lain disebutkan, “Kami diperintahkan untuk keluar. Para budak maupun wanita yang berada dalam pingitan pun juga diperintahkan demikian.”
Dalam riwayat At-Tirmidzi, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para perawan, budak, wanita yang berada dalam pingitan, serta wanita haid. Adapun wanita haid, maka mereka memisahkan diri dari tempat shalat dan mereka menyaksikan dakwah kaum muslimin. Salah seorang di antara mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, salah seorang di antara para wanita tidak memiliki jilbab.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya.’”
Dalam riwayat An-Nasa’i, “Hafsah binti Sirin berkata, ‘Ummu Athiyah tidak mengingat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali perkataannya, ‘Demi ayahku,’ Aku berkata, ‘Apakah engkau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan demikian dan demikian?’ Ummu Athiyah berkata, ‘Ya, demi ayahku.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hendaklah para budak, wanita yang dipingit, dan wanita yang sedang haid menghadiri shalat ‘id dan memenuhi panggilan kaum muslimin. Serta hendaklah wanita haid menjauhi tempat shalat.’” (HR. Bukhari: 1/84)
Berdasarkan dalil-dalil tersebut, tampak bahwa keluarnya wanita untuk menghadiri shalat idul fitri dan shalat idul adha merupakan sunnah muakkad (sangat dianjurkan), namun dengan syarat mereka menutup aurat dengan benar, tidak bertabarruj (berhias diri), sebagaimana yang telah kita ketahui dari dalil-dalil yang lain. Adapun tentang keluarnya anak-anak yang telah tamyiz (bisa membedakan baik dan buruk, ed) untuk melaksanakan shalat ‘Id, shalat jumat, dan selain kedua shalat tersebut, maka hal tersebut merupakan perkara yang ma’ruf dan disyariatkan, berdasarkan dalil-dalil yang banyak mengenai hal tersebut. Hanya Allah yang memberikan taufik.
Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah (Lembaga Fatwa Saudi Arabia): 8/284―286