Iseng
kubuka Facebook-ku setelah selesai
membuat laporan bulanan, berandaku ramai dengan status dan foto-foto postingan
teman-temanku. Lalu kutulis sebuah kata tak lama statusku langsung diisi dengan
komen mereka yang menanyakan kabarku. Aku senyum-senyum sendiri karenanya. Keasyikanku
terhenti ketika pintu ruanganku ada yang mengetuk.
“Masuk.”
Ternyata
Rizal. Ia pun duduk disofa yang ada.
“Ada
apa Zal?.”
“Mau
menawarkan sebuah rencana aku dan Roni.”
“Apa?.”
“Sebentar
lagi kan libur akhir tahun nih. Nah aku dan Roni punya ide gimana kalau kita
liburan kepantai.”
“Boleh
tuh idenya, siapa saja yang ikut?.”
“Sekitar
10 orang yang daftar rata-rata bawa keluarga masing-masing.”
“Rencananya
nginap?.”
“Iya
dong, satu hari sebelum kita sudah berangkat. Gimana, kamu mau ikut.”
“Aku
ikut kalau begitu. Tempat nginapnya dekat pantai?.”
“Iya,
aku sama Roni sudah hunting tempatnya.
Penginapannya bagus dilengkapi dapur mini per kamarnya, siapa tahu ada yang mau
masak sendiri.”
“Sip,
aku ikut.”
Rizal
tersenyum mendengar jawabanku kemudian menulis namaku didaftar.
“Makasih
ya.”
“Sama-sama.”
Aku
menuju kulkas yang ada dipojok ruangan mengambil teh dingin yang tersedia
didalamnya lalu memberikannya pada Rizal, ia pun mengambil pemberianku lalu meneguknya.
Tak sadar kuperhatikan caranya minum, hingga akhirnya Rizal sadar kalau sedang
diperhatikan olehku. Segera kualihkan pandanganku kearah lain, lalu duduk
disebelahnya.
“Wi,
aku boleh tanya sesuatu?.”
“Apa?.”
“Tapi
jangan marah ya?.”
“Tergantung
pertanyaannya,” selorohku.
“Hm.......”
“Mau
tanya apa?.”
“Kamu........pernah
nggak kepikiran cari pasangan lagi.”
Aku
tersenyum karenanya “Ya kepikiran Zal, bahkan kalau kumpul dengan keluarga aku
selalu ditanyakan hal itu.”
“Memangnya
kriteria yang gimana?.”
“Nggak
ribet sih, yang nyambung komunikasinya, pokoknya ketemu “Klik”nya,” jawabku
sambil menggerakkan jari telunjuk dan jari manisku kiri dan kanan.
“Terus........sudah
ada ketemu belum dengan yang ada “Klik”nya?,” berondongnya lagi sambil meniru
gaya jariku tadi.
“Ada
sih, tapi................”
“Kenapa.”
“Nggak
tahu dia-nya juga punya rasa yang sama atau nggak.” Karena orang itu kamu Zal, teriak hatiku.
Rizal
mengangguk tanda mengerti.
“Kalau
kamu,” aku balik bertanya.
“Ada,
tapi belum kuutarakan,” jawabnya lugas sambil menatapku tajam. Namun aku tak
mengerti apa maknanya.
Oh, no pupus sudah harapanku.
“Kenapa
dipendam?,” tanyaku
“Tunggu
saat yang tepat.”
“Ok,
selamat mengutarakan kalau begitu,” ujarku berusaha tegar.
Lagi-lagi
Rizal hanya tersenyum, lalu pamit dan berlalu. Meninggalkanku yang dengan hati
nelangsa karenanya. Makanya jangan
berharap, desah batinku. Aku kembali duduk dan menatap laptopku dimana Facebook- ku masih menyala, mencoba
menghalau rasa galau yang mendera batinku kembali berkomen ria dengan mereka.
Hari
dinanti – nanti itu datang juga akhirnya, dengan diantar oleh Kak Nandira
menuju tempat titik kumpul dihalaman kantor dimana bis menunggu disana.
Memasuki halaman parkir kantor terlihat begitu ramai karena mereka yang ikut
membawa serta keluarga masing – masing. Semua sedang sibuk menyusun barang
bawaannya masing – masing kedalam bagasi bis. Aku pun segera turun dari mobil
dan mengambil tasku dibagian belakang mobil Kak Nandira. Dengan cepat Rizal menghampiriku
dan membantuku membawakan barang bawaanku.
“Tasmu
cuma ini.”
“Iya,
aku cuma sendiri kan.”
Tanpa
banyak kata lagi Rizal langsung membawa tasku untuk dimasukkan ke dalam bagasi
bis. Aku berpamitan dengan Kak Nandira.
“Berangkat
ya Kak,” ujarku sambil mencium pipinya.
“Iya,
hati-hati.”
Aku
tersenyum lalu melangkahkan kakiku menuju bis dan melambaikan tangan padanya
saat telah masuk didalam bis. Kak Nandira pun membalas lambaianku sembari
tersenyum. Bis pun mulai berjalan dengan perlahan, Rizal melambaikan tangannya
memberi isyarat agar duduk disamping karena memang hanya itu kursi yang
tersisa, dan berada dipaling belakang. Meskipun aku kurang suka karena biasanya
goncangan lebih terasa namun mau bagaimana lagi. Segera kuberjalan menuju bangku yang disebelah
Rizal dan menghempaskan tubuhku disitu.
“Berapa
jam perjalanan kesana?,” tanyaku sambil menawarkan permen yang kubawa
kepadanya.
“Sekitar
dua jam ,”katanya sambil mengambil permen yang kutawarkan.
“Ok.”
Kuambil
headsetku lalu memutar lagu yang ada
di handphoneku, kuatur posisi dudukku
lalu mengambil buku yang sudah kusiapkan untuk kubaca diperjalanan. Namun tiba
– tiba Rizal mencabut headsetku aku
agak terkejut jadinya, konsentrasiku buyar seketika pada bacaanku. Aku
mengerenyitkan alisku sebagai tanda protes atas apa yang dia lakukan, tetapi
dia malah melemparkan senyum usilnya padaku.
“Banyak
pemandangan bagus,” jelasnya padaku tanpa merasa bersalah.
“Iya,
sih,” jawabku sambil melihat kearah jendela. “Tapi aku mau baca dulu,” lanjutku
sambil membuka buku lagi.
“Ya
sudah, lanjutkan saja bacanya,” katanya sembari memasang kembali headsetku tanpa diminta, sehingga Roni
dan istri yang satu deretan dengan kami tersenyum melihatnya. Aku hanya bisa
menggelengkan kepala lalu kembali membaca dan Rizal pun kembali asyik melihat
pemandangan dari jendela yang berada disampingnya.
Satu
jam setengah sudah perjalanan kami, aktifitas membacaku terhenti saat bis
berjalan perlahan memasuki Rumah Makan untuk beristirahat sejenak. Kami pun
segera turun untuk membuang penat yang ada. Teman yang membawa anak-anaknya
sibuk mengurus anak-anak mereka yang ingin berbelanja camilan, seketika Rumah
Makan tersebut jadi riuh akan kehadiran kami.
“Pesan
apa?,” tanya Rizal sembari meletakkan tas ranselnya diatas meja.
“Aku
belum lapar nih, tapi kalau ada coklat hangat boleh juga.”
Dia
pun segera meninggalkan meja dan memesan makanan dan minuman untuk kami berdua.
Lalu kembali dengan dua gelas coklat hangat ditangannya kemudian diberikannya
padaku gelas yang satunya. Dengan cepat kuseruput minuman tersebut, hangat
terasa menjalar dialiran darahku. Sehingga tak kusadari Rizal memandangku lekat
saat aku meminumnya dan aku baru menyadari saat gelas kuletakkan diatas meja.
“Menikmati
banget,” ujarnya.
“Haha.....aku
paling suka coklat hangat.”
“I love the way you drink it,” katanya
sambil tersenyum.
“Ada-ada
saja kamu,” sahutku merasa jengah dengan perkataannya barusan.
Seorang
pelayan datang mengantar makanan yang telah dipesan, dengan segera dia
menyantap makanan tersebut, sementara aku hanya menikmati sepotong roti isi
kacang dan coklat hangat itu. Setelah semua selesai menghabiskan makanan dan
minuman kami pun kembali melanjutkan perjalanan.
Ketika
bis yang kami tumpangi memasuki daerah tempat penginapan semuanya sudah tak
sabar untuk segera bermain-main di pantai . Setelah bis benar-benar berhenti
semuanya dengan tak sabar untuk turun, euforia liburan terasa bila sudah
seperti ini. Aku segera mengambil tas dan menuju tempat penginapan yang telah
dipesan oleh Roni dan Rizal untuk kami semua. Bangunannya menghadap laut nan
biru terbuat dari kayu memakai tongkat dibawahnya sehingga agak tinggi diatas
pasir. Bergegas aku menuju kamar yang sudah disiapkan, dilengkapi dua kursi dan
sebuah meja serta tempat tidur, dan dipojok belakang ada sebuah kitchen set mini dan kompor gas juga
peralatan makan dan minum. Setelah mengeluarkan dan menyimpan pakaian dilemari
yang tersedia aku melangkahkan kakiku keluar kamar, dimana anak-anak rekan
kantor kami sudah bermain-main dipantai mereka dengan cepatnya akrab satu sama
lainnya, aku duduk dibangku yang tersedia diteras menikmati ramainya mereka dan
pemandangan laut yang begitu indah sambil mengoleskan sunblock yang kubawa di kaki dan tanganku. Pihak pengelola
penginapan sedang sibuk menyiapkan segala sesuatunya di ujung penginapan ini
untuk menyambut tahun baru nanti malam, membuat suasana semakin riuh dan ramai.
“Nggak
gabung?,” tanya Rizal yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya dengan kamera
ditangannya.
“Suka
melihat mereka saja.”
“Jalan
yuk,” ajaknya.
“Kemana?.”
“Ke
teluk sebelah sana, pemandangannya bagus. Aku mau ambil foto.”
“Boleh,
ayo.”
Kami
pun menuruni tangga dan berjalan menuju kearah teluk tersebut dengan berjalan
perlahan sambil menikmati indah pemandangan yang terpampang dihadapan mata.
Baru beberapa langkah, tiba-tiba suara Roni bertanya “Mau kemana?.”
Sontak
secara bersamaan kami berdua menjawab dengan menunjuk kearah teluk, dia pun
mengangguk tanda mengerti. Lalu dengan usil dia memberikan siulan kepada kami
berdua, aku dan Rizal tertawa kecil jadinya, kukibaskan tanganku menghalau
godaan Roni. Rizal mulai membidikkan kameranya mencari angel yang bagus, kadang diarahkannya padaku dan aku pun berpose.
Benar – benar pemandangan yang indah rasanya lepas segala beban yang ada disaat
bekerja. Rizal menyetel timer pada kamera kemudian meletakkan
kamera diatas batu yang berukuran sedang setinggi dadanya. Kami pun berpose dengan
gaya kami masing –masing setelah puas berfoto ria kami pun menikmati deburan
air laut yang menyapu bibir pantai dan membasahi kaki kami berdua.
Bersambung................