Selasa, 29 Maret 2016

HADIRMU (3)

Iseng kubuka Facebook-ku setelah selesai membuat laporan bulanan, berandaku ramai dengan status dan foto-foto postingan teman-temanku. Lalu kutulis sebuah kata tak lama statusku langsung diisi dengan komen mereka yang menanyakan kabarku. Aku senyum-senyum sendiri karenanya. Keasyikanku terhenti ketika pintu ruanganku ada yang mengetuk.
“Masuk.”
Ternyata Rizal. Ia pun duduk disofa yang ada.
“Ada apa Zal?.”
“Mau menawarkan sebuah rencana aku dan Roni.”
“Apa?.”
“Sebentar lagi kan libur akhir tahun nih. Nah aku dan Roni punya ide gimana kalau kita liburan kepantai.”
“Boleh tuh idenya, siapa saja yang ikut?.”
“Sekitar 10 orang yang daftar rata-rata bawa keluarga masing-masing.”
“Rencananya nginap?.”
“Iya dong, satu hari sebelum kita sudah berangkat. Gimana, kamu mau ikut.”
“Aku ikut kalau begitu. Tempat nginapnya dekat pantai?.”
“Iya, aku sama Roni sudah hunting tempatnya. Penginapannya bagus dilengkapi dapur mini per kamarnya, siapa tahu ada yang mau masak sendiri.”
“Sip, aku ikut.”
Rizal tersenyum mendengar jawabanku kemudian menulis namaku didaftar.
“Makasih ya.”
“Sama-sama.”
Aku menuju kulkas yang ada dipojok ruangan mengambil teh dingin yang tersedia didalamnya lalu memberikannya pada Rizal, ia pun mengambil pemberianku lalu meneguknya. Tak sadar kuperhatikan caranya minum, hingga akhirnya Rizal sadar kalau sedang diperhatikan olehku. Segera kualihkan pandanganku kearah lain, lalu duduk disebelahnya.
“Wi, aku boleh tanya sesuatu?.”
“Apa?.”
“Tapi jangan marah ya?.”
“Tergantung pertanyaannya,” selorohku.
“Hm.......”
“Mau tanya apa?.”
“Kamu........pernah nggak kepikiran cari pasangan lagi.”
Aku tersenyum karenanya “Ya kepikiran Zal, bahkan kalau kumpul dengan keluarga aku selalu ditanyakan hal itu.”
“Memangnya kriteria yang gimana?.”
“Nggak ribet sih, yang nyambung komunikasinya, pokoknya ketemu “Klik”nya,” jawabku sambil menggerakkan jari telunjuk dan jari manisku kiri dan kanan.
“Terus........sudah ada ketemu belum dengan yang ada “Klik”nya?,” berondongnya lagi sambil meniru gaya jariku tadi.
“Ada sih, tapi................”
“Kenapa.”
“Nggak tahu dia-nya juga punya rasa yang sama atau nggak.” Karena orang itu kamu Zal, teriak hatiku.
Rizal mengangguk tanda mengerti.
“Kalau kamu,” aku balik bertanya.
“Ada, tapi belum kuutarakan,” jawabnya lugas sambil menatapku tajam. Namun aku tak mengerti apa maknanya.
Oh, no pupus sudah harapanku.
“Kenapa dipendam?,” tanyaku
“Tunggu saat yang tepat.”
“Ok, selamat mengutarakan kalau begitu,” ujarku berusaha tegar.
Lagi-lagi Rizal hanya tersenyum, lalu pamit dan berlalu. Meninggalkanku yang dengan hati nelangsa karenanya. Makanya jangan berharap, desah batinku. Aku kembali duduk dan menatap laptopku dimana Facebook- ku masih menyala, mencoba menghalau rasa galau yang mendera batinku kembali berkomen ria dengan mereka.
Hari dinanti – nanti itu datang juga akhirnya, dengan diantar oleh Kak Nandira menuju tempat titik kumpul dihalaman kantor dimana bis menunggu disana. Memasuki halaman parkir kantor terlihat begitu ramai karena mereka yang ikut membawa serta keluarga masing – masing. Semua sedang sibuk menyusun barang bawaannya masing – masing kedalam bagasi bis. Aku pun segera turun dari mobil dan mengambil tasku dibagian belakang mobil Kak Nandira. Dengan cepat Rizal menghampiriku dan membantuku membawakan barang bawaanku.
“Tasmu cuma ini.”
“Iya, aku cuma sendiri kan.”
Tanpa banyak kata lagi Rizal langsung membawa tasku untuk dimasukkan ke dalam bagasi bis. Aku berpamitan dengan Kak Nandira.
“Berangkat ya Kak,” ujarku sambil mencium pipinya.
“Iya, hati-hati.”
Aku tersenyum lalu melangkahkan kakiku menuju bis dan melambaikan tangan padanya saat telah masuk didalam bis. Kak Nandira pun membalas lambaianku sembari tersenyum. Bis pun mulai berjalan dengan perlahan, Rizal melambaikan tangannya memberi isyarat agar duduk disamping karena memang hanya itu kursi yang tersisa, dan berada dipaling belakang. Meskipun aku kurang suka karena biasanya goncangan lebih terasa namun mau bagaimana lagi.  Segera kuberjalan menuju bangku yang disebelah Rizal dan menghempaskan tubuhku disitu.
“Berapa jam perjalanan kesana?,” tanyaku sambil menawarkan permen yang kubawa kepadanya.
“Sekitar dua jam ,”katanya sambil mengambil permen yang kutawarkan.
“Ok.”
Kuambil headsetku lalu memutar lagu yang ada di handphoneku, kuatur posisi dudukku lalu mengambil buku yang sudah kusiapkan untuk kubaca diperjalanan. Namun tiba – tiba Rizal mencabut headsetku aku agak terkejut jadinya, konsentrasiku buyar seketika pada bacaanku. Aku mengerenyitkan alisku sebagai tanda protes atas apa yang dia lakukan, tetapi dia malah melemparkan senyum usilnya padaku.
“Banyak pemandangan bagus,” jelasnya padaku tanpa merasa bersalah.
“Iya, sih,” jawabku sambil melihat kearah jendela. “Tapi aku mau baca dulu,” lanjutku sambil membuka buku lagi.
“Ya sudah, lanjutkan saja bacanya,” katanya sembari memasang kembali headsetku tanpa diminta, sehingga Roni dan istri yang satu deretan dengan kami tersenyum melihatnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala lalu kembali membaca dan Rizal pun kembali asyik melihat pemandangan dari jendela yang berada disampingnya.
Satu jam setengah sudah perjalanan kami, aktifitas membacaku terhenti saat bis berjalan perlahan memasuki Rumah Makan untuk beristirahat sejenak. Kami pun segera turun untuk membuang penat yang ada. Teman yang membawa anak-anaknya sibuk mengurus anak-anak mereka yang ingin berbelanja camilan, seketika Rumah Makan tersebut jadi riuh akan kehadiran kami.
“Pesan apa?,” tanya Rizal sembari meletakkan tas ranselnya diatas meja.
“Aku belum lapar nih, tapi kalau ada coklat hangat boleh juga.”
Dia pun segera meninggalkan meja dan memesan makanan dan minuman untuk kami berdua. Lalu kembali dengan dua gelas coklat hangat ditangannya kemudian diberikannya padaku gelas yang satunya. Dengan cepat kuseruput minuman tersebut, hangat terasa menjalar dialiran darahku. Sehingga tak kusadari Rizal memandangku lekat saat aku meminumnya dan aku baru menyadari saat gelas kuletakkan diatas meja.
“Menikmati banget,” ujarnya.
“Haha.....aku paling suka coklat hangat.”
I love the way you drink it,” katanya sambil tersenyum.
“Ada-ada saja kamu,” sahutku merasa jengah dengan perkataannya barusan.
Seorang pelayan datang mengantar makanan yang telah dipesan, dengan segera dia menyantap makanan tersebut, sementara aku hanya menikmati sepotong roti isi kacang dan coklat hangat itu. Setelah semua selesai menghabiskan makanan dan minuman kami pun kembali melanjutkan perjalanan.
Ketika bis yang kami tumpangi memasuki daerah tempat penginapan semuanya sudah tak sabar untuk segera bermain-main di pantai . Setelah bis benar-benar berhenti semuanya dengan tak sabar untuk turun, euforia liburan terasa bila sudah seperti ini. Aku segera mengambil tas dan menuju tempat penginapan yang telah dipesan oleh Roni dan Rizal untuk kami semua. Bangunannya menghadap laut nan biru terbuat dari kayu memakai tongkat dibawahnya sehingga agak tinggi diatas pasir. Bergegas aku menuju kamar yang sudah disiapkan, dilengkapi dua kursi dan sebuah meja serta tempat tidur, dan dipojok belakang ada sebuah kitchen set mini dan kompor gas juga peralatan makan dan minum. Setelah mengeluarkan dan menyimpan pakaian dilemari yang tersedia aku melangkahkan kakiku keluar kamar, dimana anak-anak rekan kantor kami sudah bermain-main dipantai mereka dengan cepatnya akrab satu sama lainnya, aku duduk dibangku yang tersedia diteras menikmati ramainya mereka dan pemandangan laut yang begitu indah sambil mengoleskan sunblock yang kubawa di kaki dan tanganku. Pihak pengelola penginapan sedang sibuk menyiapkan segala sesuatunya di ujung penginapan ini untuk menyambut tahun baru nanti malam, membuat suasana semakin riuh dan ramai.
“Nggak gabung?,” tanya Rizal yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya dengan kamera ditangannya.
“Suka melihat mereka saja.”
“Jalan yuk,” ajaknya.
“Kemana?.”
“Ke teluk sebelah sana, pemandangannya bagus. Aku mau ambil foto.”
“Boleh, ayo.”
Kami pun menuruni tangga dan berjalan menuju kearah teluk tersebut dengan berjalan perlahan sambil menikmati indah pemandangan yang terpampang dihadapan mata. Baru beberapa langkah, tiba-tiba suara Roni bertanya “Mau kemana?.”

Sontak secara bersamaan kami berdua menjawab dengan menunjuk kearah teluk, dia pun mengangguk tanda mengerti. Lalu dengan usil dia memberikan siulan kepada kami berdua, aku dan Rizal tertawa kecil jadinya, kukibaskan tanganku menghalau godaan Roni. Rizal mulai membidikkan kameranya mencari angel yang bagus, kadang diarahkannya padaku dan aku pun berpose. Benar – benar pemandangan yang indah rasanya lepas segala beban yang ada disaat bekerja. Rizal menyetel  timer pada kamera kemudian meletakkan kamera diatas batu yang berukuran sedang setinggi dadanya. Kami pun berpose dengan gaya kami masing –masing setelah puas berfoto ria kami pun menikmati deburan air laut yang menyapu bibir pantai dan membasahi kaki kami berdua.

Bersambung................

Sabtu, 19 Maret 2016

HADIRMU (2)

Kuberdiri menghadap jendela menatap pemandangan dibawah sana, karena kantor kami berada dilantai 11 di gedung ini sehingga aku bisa leluasa memandang. Dibawah sana kendaraan berseliweran seperti biasa, hari ini matahari benar – benar sumringah menyinari bumi. Kugeleng-gelengkan kepalaku kekiri dan kanan mencoba mengusir penat yang baru terasa setelah kami sibuk mempersiapkan bahan untuk Roni yang akan melakukan presentasi di kantor klien yang rencananya ingin memakai jasa kami, dan kali ini kami memiliki saingan jadi mau tak mau semuanya harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Roni baru saja bergegas berangkat karena waktu adalah segalanya, jika tak ingin proyeknya diambil oleh perusahaan lain. Baru saja kuhempaskan tubuhku dikursi, tiba-tiba handphoneku berbunyi dari........... Roni?.
“Halo,” sahutku.
“Wi, tolong kamu kesini ambil bahannya, kamu saja yang presentasikan, aku terjebak macet karena didepan ada kecelakaan jadi nggak bisa lewat,” ujarnya diseberang sana.
“Kalau disitu macet, lantas gimana lewatnya Ron?,” tanyaku
“Kalau motor bisa aja lewat, Wi.”
“Tapi sama siapa? Yang bisa antarkan aku datangin kamu?,” ujarku.......hhh ada-ada saja.
“Bawa Rizal deh, dia kan makai motor,cepetan ya aku tunggu,” perintahnya.
Lalu kami saling menutup telpon aku bergegas menuju ruang tempat Rizal berada. Semoga dia ada,batinku berkata. Saat aku memasuki ruangan dia sedang berbincang dengan Hesti, entah apa yang mereka bicarakan terlihat akrab sekali. Huuff....kok aku jadi bete liatnya, desah batinku. Mereka pun menghentikan pembicaraan ketika melihat aku menghampiri, Hesti pun langsung pamit meninggalkan ruangan.
“Zal, kamu sibuk nggak? Soalnya aku mau minta tolong nih,” tanyaku
“Nggak, kenapa?.”
“Mmm....Roni kejebak macet, jadi dia nggak bisa presentasikan proyek tadi.”
“Ok, ayo,” jawabnya lalu meraih jaketnya yang digantung disandaran kursi.
“Aku ambil tas dulu ya,” ujarku sambil mempercepat langkah menuju ruanganku kemudian mengambil tas. Lalu kami bergegas memasuki lift lalu menuju parkiran motor. Sesampainya diparkiran aku kebingungan mencari helm, untungnya ada helm persediaan di ruang satpam. Lalu Rizal pun memacu motornya menuju kearah jalan dimana Roni berada.
“Pelan-pelan dikit Zal,” pintaku.
“Kalau kamu takut, pegangan,” jawabnya.
Pegangan?, dimana? tanya hatiku.
Belum sempat aku mengeluarkan kata, tiba-tiba Rizal sudah menarik tanganku memberi arahan agar memeluk pinggangnya. Aku ragu, tapi motornya benar-benar dalam kecepatan tinggi. Akhirnya aku pasrah memeluk pinggangnya hingga tercium aroma parfumnya. Hhhmm wanginya enak sekali. Hingga akhirnya kami pun menemukan Roni yang terjebak kemacetan dikarenakan dua truk besar yang bertabrakan, sehingga tidak bisa dilewati oleh mobil. Roni segera menyerahkan bahan presentasi tersebut, lalu kami pun pamit menuju gedung kantor klien kami. Tapi kali ini Rizal mengurangi kecepatan laju motornya, jadi bisa rileks aku jadinya. Sesampainya digedung tersebut, kami segera menanyakan kepada Resepsionist dilantai berapa ruangan pertemuan tersebut, ternyata berada dilantai lima. Kami berdua pun bergegas menuju lift, dan...... lift itu sudah penuh dengan beberapa orang bule yang entah menuju lantai berapa.
“Ayo lekas, biar aja sesak-sesakkan,” ujar Rizal seraya menarik tanganku merangsek masuk diantara mereka. Rizal memang sudah terbiasa tidak memanggilku dengan embel-embel bu, bila berdua.
“Excuse me,” ujarku dengan mereka.
“It’s ok,” jawab salah satu diantara mereka.
“Which floor?,” tanya yang dekat dengan tombol lift.
“Five,please” sahut Rizal.
Aku mengambil tempat pojok karena tidak terlalu sempit, namun tetap saja itu sesak bila berdua. Kurapatkan tubuhku pada dinding lift dan Rizal mengambil posisi berdiri menghadapku, kami berdiri begitu dekat. Aku jadi salah tingkah dengan posisi seperti ini Rizal menatapku lekat, tangan kirinya ditopangkannya pada dinding lift seakan ingin melindungiku dari tubuh para bule tersebut, sehingga wangi parfumnya kembali tercium olehku.  Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan situasi seperti itu. Tak ada yang bersuara, kami berdua hanya saling tatap yang terdengar hanyalah tarikan dan hembusan nafas kami masing-masing, hingga akhirnya pintu lift pun terbuka. Kami pun keluar setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada mereka. Dengan berjalan agak cepat segera kami langkahkan kaki menuju ruangan pertemuan tersebut. Sejenak kuhentikan langkah kakiku sebelum memasuki ruangan.
“Zal, kamu aja yang presentasikan ya, lagipula kamu juga sudah menguasai tiap detilnya kan,” pintaku.
“Kamu yakin?, nanti kalau ada yang salah gimana?.”
“Aku yakin kamu bisa kok,” jawabku sembari tersenyum.
“Wish me luck,” katanya sembari menarik nafas panjang lalu menghembuskannya keluar, seakan mempersiapkan dirinya sebelum memasuki ruangan.
Kemudian kami memasuki ruangan dimana klien kami sudah menunggu duduk dengan rapinya disana, segera kami berjabat tangan saling mengenalkan diri masing-masing dan memberikan penjelasan kenapa bukan Roni yang mempresentasikannya, dan mereka bisa mengerti dengan hal itu. Lalu Rizal pun mulai melakukan presentasinya, aku pun mengambil handphone untuk merekamnya selama presentasi berlangsung. Satu jam berlalu dengan cepat, sehingga akhirnya Rizal selesai melakukan pekerjaannya. Semoga mereka puas dan melakukan deal, doaku. Mereka terlihat begitu puas dengan paparan yang dilakukan Rizal barusan dan mengatakan akan memberikan keputusan siang ini juga. Setelah berbincang-bincang dan menikmati kudapan yang telah disediakan kami pun pamit untuk kembali kekantor. Disaat perjalanan kami menuju kantor, tiba-tiba Rizal membelokkan motornya menuju sebuah rumah makan lalu memarkirkan motornya.
“Aku lapar Wi, tadi cuma kue aja....sementara tadi aku kayak didepan persidangan rasanya, hahaha.”
“Masa sampai segitunya.”
“Asli, tadi itu presentasiku yang pertama kalinya selama aku bekerja hanya jadi orang dibalik layar.”
Kami pun memilih meja yang tersisa, karena memang sedang jam makan siang sehingga suasana ramai tak lama kemudian seorang pramusaji mendatangi kami sambil membawa daftar menu makanan. Setelah menentukan menu pilihan masing-masing dia pun berlalu.
“Tapi tadi nggak terlihat seperti yang pertama kali tuh,” jawabku menyambung percakapan yang tertunda barusan.
“Aku bayangin cuma ada kamu diruangan itu jadi aku merasa lepas aja saat memaparkannya, hahaha.” Aku cuma bisa tertawa mendengar jawabannya yang kuanggap kelakar belaka.
Pesanan kami pun datang dua mangkok sop buntut yang masih panas, hhhmmm keinginanku untuk segera menyantapnya seketika tergugah. Kami pun mulai menyantapnya, tanpa bicara dengan satu sama lain. Benar-benar nikmat, sehingga tak terasa peluhku jatuh membasahi dahi dan pelipisku. Tiba – tiba Rizal mengambil tisu dan menyeka keringatku, aku agak kaget diperlakukan seperti itu apalagi beberapa orang menatap kearah kami. Aku benar – benar jengah jadinya, Rizal malah tersenyum penuh arti. Ini anak kenapa sih?. Akhir – akhir ini dia memang sering memberikan perhatian dan perlakuan yang kadang tidak kuduga-duga namun aku berusaha untuk gede rasa mendapati perlakuan dan perhatiannya, walaupun sebenarnya terkadang aku pun sering memperhatikannya dari jauh. Hanya dari jauh karena aku merasa tak pantas untuknya disebabkan aku seorang janda. Setelah menghabiskan makanan dan membayar kami pun beranjak pergi meninggalkan Rumah Makan tersebut kembali menuju kantor. Setibanya disana Roni sudah menyambut kami berdua dan menyampaikan bahwa kamilah yang mendapatkan penggarapan proyek tersebut, tentu saja itu berita yang sangat membahagiakan bagi perusahaan dan itu artinya kami harus bekerja keras lagi untuk segera mewujudkan dan menyelesaikannya tepat waktu. Dan itu artinya akan banyak menyita waktu kami juga tentunya.
Hari minggu yang cerah dan secerah senyum para keponakanku yang asyik bermain, tawa canda mereka riuh mengisi rumah. Hari ini kami semua berkumpul dirumah orang tua dan tentunya ada cara makan – makannya. Aku dan kak Nandira sibuk menyiapkan makanan diatas meja, istri adikku menyiapkan buah-buahan yang dibawa oleh mereka. Mama dan papa hanya duduk disofa menunggu panggilan dari kami. Tiba – tiba suara aplikasi Line- ku berbunyi, dari Rizal yang mengucapkan Happy Weekend, aku pun membalasnya dengan emoticon lucu, sembari tersenyum kecil.
“Siapa sih? sampai senyum-senyum gitu,” tanya Nandira penasaran.
“Teman kak.”
“Hhmm......teman apa teman?.”
“Teman.”
“Kapan kamu mikir untuk cari pasangan lagi Wi?,” tiba-tiba Papa menghampiriku.
“Dewi belum mikir Pa.”
“Calon pun nggak ada?,” sekarang Mama yang ikut-ikutan bertanya.
Aku benar – benar selalu diberondong oleh pertanyaan yang selalu sama kalau sudah acara kumpul begini.
“Kalau ada, pasti Mama dan Papa yang pertama kali akan Dewi kenalkan,” ujarku berusaha menghentikan semua pertanyaan mereka. Lalu kami pun mengambil kursi masing-masing untuk menyantap makanan yang sudah terhidang. Menikmati waktu bersama mereka seperti ini merupakan hal yang terindah bagiku, karena segala penat dan lelah akan pekerjaan hilang bersama candaan dan derai tawa bahagia bersama, saling bertukar cerita dan pikiran dan pastinya moment yang tiada duanya.
Malamnya kurebahkan tubuhku di tempat tidur, iseng kubuka video rekaman presentasi Rizal beberapa hari yang lalu, entah mengapa ada rasa rindu disudut hatiku padanya. Dan lagi-lagi Line-ku berbunyi dari beberapa teman yang menyapa karena lama tak berjumpa juga dari............. Rizal, yang mengucapkan Selamat malam moga mimpi indah sampai ketemu besok dikantor. Aku menjawab dengan emoticon, ternyata dia juga belum tidur dan............memikirkanku?, entahlah aku berusaha untuk tidak terbawa perasaan.
Bersambung....................

Jumat, 18 Maret 2016

SELALU

AWAN NAN BIRU

KUTERPANA PESONAMU

NAMUN KUTAK MAMPU MENGGAPAIMU

ADA DAMAI DIBIRUMU

SEJUK KALA KUTATAP CERAHMU

DAN BURUNG PUN SEAKAN SELALU INGIN DIDEKATMU

JANGANLAH KAU BERUBAH..............

KARNA KU AKAN MEMANDANGMU

SELALU


Rabu, 16 Maret 2016

HADIRMU

Aku terbangun ketika alarm handphoneku yang ada disamping tempat tidurku berbunyi, jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, dengan malas aku bangun menuju jendela kamar mengintip keadaan luar yang masih gelap, lalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan yang masih terasa penatnya setelah bekerja dan olahraga kemarin. Setelah selesai mandi, kuberjalan menuju luar kamar, terasa sepi sekali karena kedua pembantuku yang sepasang suami istri sedang pulang kampung karena ada kerabatnya yang meninggal dunia. Karena memang hanya kami bertiga dirumah ini, sepeninggal Andrew suamiku meninggal dunia. Tak sengaja mataku menatap kalender, tanggal 12 November tepat 2 tahun yang lalu Andrew meninggal karena pesawat yang ditumpanginya jatuh dan meledak saat sudah berada didarat, hanya sedikit penumpang yang selamat, awak pesawat pun tak ada yang selamat. Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu, kusibak tirai jendela untuk memandang tanaman mawar yang tertata rapi disamping tembok, Pak Darmo selalu merawatnya dengan baik lalu menghempaskan tubuhku diatas sofa seraya menyeruput segelas coklat hangat yang baru saja kuseduh. Kuhela nafasku berkali-kali, memoriku kembali pada saat kejadian itu terjadi, rasanya aku tak percaya saat  mendengar penerbangan yang ditumpanginya telah mengalami kecelakaan, aku seperti tak menginjak bumi saat  menerima telepon yang memberitahukan hal tersebut. Segera aku menuju kantor maskapai penerbangan yang ditumpanginya untuk memastikan hal itu benar adanya, dengan ditemani Roni rekan sekantorku kami menuju bandara. Disana sudah riuh dengan sanak saudara para penumpang yang mencari tahu tentang keberadaan keluarganya masing – masing. Aku pun berusaha mencari tahu dengan menanyakan ke bagian informasi bagaimana keadaan yang sebenarnya. Namun mereka pun belum tahu bagaimana keadaan yang sebenar – benarnya terjadi. Aku hanya mampu berdoa semoga dia berada diantara penumpang yang selamat tersebut. Setelah sekian lama menunggu barulah pihak maskapai mengumumkan siapa saja penumpang yang selamat dan tidak. Lututku lemas saat membaca namanya ada tertera diantara nama penumpang yang tak selamat tersebut. Aku hampir tak mampu menopang tubuhku, badanku bergetar hebat air mataku mulai membasahi pipiku, Roni membimbingku menuju bangku kosong yang ada, aku menangis sejadi – jadinya namun tiada mampu mengeluarkan sedikit pun, kerongkonganku terasa seperti tercekik. Beberapa saat kemudian keluargaku datang menyusulku, berusaha menenangkan diriku walaupun mereka bersedih. Tangis semua orang tumpah ruah disitu, yang terlihat adalah wajah – wajah tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Dan saat pemakaman pun aku masih saja belum bisa menerima kenyataan bahwa disana adalah Andrew yang terbujur kaku, entah berapa kali aku mengalami pingsan, aku benar – benar tak mampu menerima kenyataan saat itu.

Lamunanku memudar saat hangatnya matahari pagi yang masuk lewat jendela menyentuh ujung kakiku, aku tersadar kemudian menyeruput habis coklatku yang tak lagi hangat. Kubergegas menuju kamar untuk mengganti pakaianku untuk segera menuju makam Peter, aku ingin berziarah. Saat aku hendak mengambil kunci mobilku ada sebuah dompet teronggok disitu.... ah aku baru saja ingat itu adalah dompet yang kutemukan di gym kemarin saat ingin mengganti baju. Yang punya pastilah kebingungan mencarinya, batinku berkata. Sekalian aku akan mengantarkannya ke alamat yang tertera di Kartu Identitas yang ada didalamnya. Kupacu mobilku menuju pemakaman, hari ini benar – benar cerah sekali matahari tiada malu – malu memancarkan sinarnya. Kuputar radio, lalu terdengar suara penyiar radio yang ramah, menyapa pendengarnya lalu memutarkan lagu Hivi yang saat ini sedang in, Siapkah Kau Tuk jatuh Cinta Lagi. Beberapa saat kemudian aku sampai di pemakaman, kulangkahkan kakiku menuju makam Andrew, terlihat bersih dan rapi karena memang ada petugas yang selalu membersihkannya. Kududuk disamping makamnya, sambil meletakkan beberapa tangkai mawar yang kupetik dari taman rumah. Kupanjatkan doa untuknya, lama aku terduduk disitu sendiri. Tak kuhiraukan para peziarah yang cukup ramai hari ini, maklum hari libur. 
Tanpa terasa airmataku menetes basahi pipiku, segera kuhapus. Setelah beberapa saat kurasa cukup, aku pun pamit meninggalkan makam Andrew yang membisu.
Kubuka dompet yang kutemukan saat telah masuk dimobil untuk melihat kembali alamat yang ada. Rizal Maulana Jl. Senopati no. 29. Segera kupacu mobilku menuju alamat tersebut, untungnya masih searah dengan jalur yang kulalui tadi, jadinya aku tak perlu repot memutar arah lagi. Saat memasuki jalan yang tertera dialamat itu, ku perlambat laju mobilku seraya memandang kearah kiri dan kananku, aha itu dia rumahnya. Ku parkirkan mobilku didepan pagar rumah tersebut, pagarnya terbuka dan ada seorang lelaki yang sedang asyik membersihkan motor lelaki dengan model yang terbaru dan dalam posisi membelakangi.
“Permisi,” ujarku
Dia lalu membalikkan tubuhnya begitu mendengar suaraku, lalu menatapku lekat. Mungkin karena baru melihat.
“Ya, kenapa mbak?,” tanyanya sopan.
“Apa benar ini rumahnya Rizal Maulana?.”
“Iya betul mbak, kak Rizal nya lagi didalam,” terangnya. “Sebentar ya saya panggilkan,” ujarnya lalu meninggalkanku menuju rumah. Lalu berteriak memanggil.
Kupandangi sekeliling, halamannya asri dipojok kanan depan rumah ada beberapa batang bunga matahari yang mekar dengan sempurna, lalu dipojok lainnya ada sebuah pancuran air kecil yang selalu mengalirkan air. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan seseorang, pastinya itu yang bernama Rizal. Lumayan tampan, dengan jenggot yang sedikit menempel didagunya.
“Ada yang bisa saya bantu mbak?,” tanyanya dengan senyum pula.
Kuulurkan tanganku lalu mengenalkan diri “Kenalkan, saya Dewi.”
“Rizal,” jawabnya sembari menyambut uluran tanganku.
“Kita duduk diteras aja mbak, harinya lumayan panas,” tawarnya.
“Oke,” sahutku lalu mengikutinya berjalan menuju teras kemudia duduk dikursi yang ada.
Kubuka tasku untuk mengambil dompet yang ada didalamnya, lalu berkata “Saya mau mengembalikan ini,” ujarku menunjukkan dompet miliknya.
“Oh ya?,” jawabnya terlihat senang sekali. “Makasih ya mbak.”
“Iya, sama-sama,” jawabku.
“Mbak nemunya dimana? Kemarin saya kebingungan mencarinya, akhirnya pasrah aja kehilangan dompetnya, rencananya hari ini mau lapor polisi,” ujarnya panjang lebar.
“Di gym didaerah loker penitipan nemunya, isinya dilihat dulu siapa tahu ada yang kurang,” sahutku juga.
Dia pun membuka dan melihat isi dompetnya tersebut, lalu menatapku dengan senyum dan terlihat senang. “Nggak ada yang hilang mbak, sekali lagi terima kasih ya,” jawabnya.
“Syukurlah,” jawabku.
“Aduh, sampai lupa nih tamunya belum disuguhin air, mbak mau minum apa?,” ujarnya kembali.
“Teh hangat aja deh, jadi merepotkan, “ jawabku.
“Nggak kok, sebentar ya,” ujarnya lalu masuk kedalam rumah lalu terdengar percakapan singkatnya dengan seseorang, mungkin pembantunya. Kemudian dia sudah kembali duduk disampingku, tak lama kemudian datang seorang wanita usia empat puluh tahun datang membawa dua cangkir teh hangat dan setoples ukuran sedang yang berisi kue kering.
“Silahkan diminum mbak,” tawarnya ibu tersebut dengan sopan padaku lalu berlalu kedalam rumah.
“Makasih.” Jawabku sambil tersenyum.
Sesaat kemudian, kami berdua pun menikmati teh hangat dan kue tersebut, perbincangan antara kami mengalir begitu saja, seakan sudah kenal lama sebelumnya. Ternyata dia baru saja Resign dari tempat kerjanya karena tidak mau dipindahkan ke kantor cabang yang letaknya di propinsi lain, padahal posisi yang ditawarkan padanya cukup menggiurkan dan sudah memasukkan lamaran yang ternyata adalah tempat kerjaku. Jangan – jangan dia melamar diposisi yang kemarin kosong karena staf tersebut sudah masuk usia purna tugasnya, tebakku dihati. Tiada terasa percakapan kami hampir satu jam, setelah bertukaran nomor telpon, aku pun pamit untuk pulang.
Senin lagi, dimana semua orang kadang ngedumel dengan hari ini...... karena kembali dari libur yang selalu terasa kurang. Segera kumemasuki ruanganku, untuk memastikan persiapan untuk presentasi nanti telah siap tanpa kurang satu apapun, kuteliti satu per satu, Roni sudah menyiapkan semuanya dengan baik, walaupun aku tahu dia pasti agak kewalahan karena stafnya pak Fauzi sudah pensiun. Kuminta stafku agar segera memanggil Roni. Beberapa saat kemudian Roni sudah ada diruanganku.
“Bagaimana? Sudah pas buat dipresentasikan?,” tanyanya seraya menghampiriku yang sedang menghadap meja tempat kami mengadakan rapat kecil biasanya.
“Iya, sudah pas sesuai yang diinginkan Pak Chandra,” jawabku lalu tersenyum. “Makasih ya,” lanjutku.
“O ya, pegawai pengganti pak Fauzi hari ini sudah masuk, tadi dia sudah melapor dan sudah ada di Divisi IT,” ujarnya Toni.
“Syukurlah kalau sudah dapat, soalnya Big Bos nggak mau tempat itu lama kosong,” jawabku. “Tapi aku belum kenal orangnya Ron.”
“Nanti aku kenalkan,” jawabnya.
Lalu kami pun menuju ruang pertemuan yang ada di sayap kanan gedung tempat kantor kami, mempersiapkan segalanya agar nanti saat klien tiba segalanya sudah siap. Beberapa saat kemudian klien yang kami tunggu pun datang, lalu kami pun mulai mempresentasikan contoh bangunan yang akan dibangun. Tak terasa 2 jam berlalu begitu cepat kami tersenyum puas karena klien merasa puas dan senang akan contoh yang kami berikan dan akan memakai jasa perusahaan kami, dan tentunya kami akan mendapat bonus selain dari bonus untuk perusahaan. Kemudian kami mengantar klien tersebut menuju lift, dan mereka pun berpamitan. Aku dan Roni kompak tersenyum senang.
“Oya, ayo aku kenalkan ke stafku,” ujarnya kemudian berjalan menuju ruangan Divisinya.
Disana ada seorang lelaki yang sedang serius menatap kearah komputer, tangannya tak henti memainkan mouse menatap program desain bangunan yang ada didepannya sesekali mengganti fitur yang ada digambar desain tersebut. Roni menepuk bahunya sembari berkata “ Zal, kenalkan ini bu Dewi manager disini.”
Dia pun memutar kursinya dan berdiri, sejenak kami bertatap mata dengan ekspresi kaget sejenak.
“Rizal kan?,” tanyaku sambil tersenyum dan mengulurkan tanganku.
“Iya, siapa lagi, karena ini di kantor  jadi aku panggil bu Dewi ya” jawabnya menyambut uluran tanganku.
“Iya deh,” kami kembali berjabat tangan untuk kedua kalinya dipertemuan yang kedua juga.
Roni memandang kami berdua bergantian tatapannya seakan meminta penjelasan. Aku pun menjelaskan sebab bagaimana kami bisa saling mengenal, setelah mendengar kisahku ia pun mengangguk mengerti.
“Baguslah, jadi aku nggak perlu capek-capek mengenalkan kalian satu sama lain,” ujarnya.
Setelah beberapa saat berbincang-bincang, aku pun pamit meninggalkan mereka berdua agar melanjutkan pekerjaan mereka dan berjanji untuk makan siang bersama nantinya.
Bersambung..........

Minggu, 13 Maret 2016

DISUATU TEMPAT, 14 MEI 2002

Alam mengharu biru
Disela panasnya panggangan
Raksasa sang dewa cahaya
Mengerang isi bumi dan hati
Menggelepar tak berdaya disudut jagad raya
Membiru langit diatasku
Apa tahu jiwaku?
Tak ada lembutnya sentuhan bayu
Tenang namun menyesakkan
Sementara peluhku luruh
Satu demi satu
Mengharap iba terpaan semilirmu


Jumat, 11 Maret 2016

KETIKA CINTA KEMBALI MENYAPA


Aku membongkar isi lemariku mencari gaun yang tepat untukku, entah kenapa rasanya selalu ada yang tidak tepat, padahal semua gaun itu masih bagus untuk dipakai kembali. Hhhh…..kenapa aku jadi gugup, resah, begini padahal Peter hanya minta ditemani ke acara kampusnya. Dan aku tak mengerti kenapa aku tak mampu menolak permintaannya itu. Freya memandangku sambil berdiri dipinggir pintu kamarku, dia hanya tersenyum melihat tingkahku. Kutatap dia dengan perasaan berkecamuk.
"Yang merah itu bagus kok," ujarnya meyakinkanku.
"Apa warnanya tidak terlalu mencolok," tanyaku sambil memandang gaun tersebut.
"Justru dengan itu kamu bisa jadi pusat perhatian," katanya sambil mendekatiku.
"Freya…..honey, aku cuma menemaninya bukan mau cari jodoh."
"Siapa suruh kamu cari jodoh, jodohmu sudah ada didepan matamu tapi kamu masih meragukannya," ujar Freya sambil membantuku merapikan gaun itu begitu kupasang.
Aku membelalakkan mataku padanya tapi cuek pura – pura tidak tahu. Namun apa yang dikatakannya memang benar adanya, bisik batinku.
Kupandangi bayanganku dicermin ternyata pilihan Freya tidak salah. Im good looking with this dress. Enam bulan yang lalu Peter telah mengungkapkan perasaannya kepadaku, namun kukatakan padanya kalau aku perlu waktu untuk memikirnya Peter pun mengiyakan. Aku ragu karena perbedaan usia diantara kami berdua walaupun hanya tiga tahun, tetapi Peter  tak pernah berhenti meyakinkan diriku bahwa itu bukanlah penghalang dan selama enam bulan ini dia telah membuktikannya. Kuakui dia bukan seperti lelaki pada umumnya yang seusia dirinya, pikirannya dan tindakannya begitu dewasa. Karena itulah Freya selalu mendesakku untuk segera memberikan jawabanku pada Peter. Aku bosan melihat kamu selalu begini, katanya suatu waktu padaku.


"Kamu sudah siap dengan jawabanmu malam ini," ujar Freya sambil membantuku berdandan.
"Kamu yakin dia akan menanyakanku ?."
Freya menganggukkan kepalanya sembari menyapukan blush on di pipiku. Hhh…temanku yang satu ini memang seperti memiliki indra keenam saja. Sesaat kemudian acara berdandan selesai, sekali lagi aku mematut diri dihadapan cermin, perfect. Tinggal menunggu Peter datang. Jantungku berdegup aku seperti anak remaja pada kencan pertamanya. Lima belas menit kemudian Freya memanggilku dari bawah, Peter telah datang. Kutarik lalu kuhembuskan lagi nafasku untuk menghalau rasa gemuruh didadaku. Kuturuni tangga dengan pelan namun pasti dibawah sana Peter  telah menunggu dengan seikat bunga mawar segar dia terlihat begitu tampan dengan tuxedo-nya.Peter memberikanku mawar tersebut, aku menyambutnya dengan suka cita. Tanpa ragu digenggamnya tanganku menuju mobil, kutoleh kepalaku kebelakang kearah Freya, dia tersenyum.
"Have fun," ujarnya.
"We will," jawab Peter.
Sesaat kemudian mobil kami meluncur menuju tempat pesta diadakan. Sambil mengemudikan mobil Peter bertanya padaku "Kamu suka bunganya?."
"Suka, terima kasih. Kamu tidak memintanya dari Amira kan?."
Peter tertawa kecil lalu menjawab "Aku memang memetik dari kebunnya. Tapi dia mengijinkan begitu tahu bunga itu untukmu," sambil menatapku penuh arti.
Ditatap seperti itu aku jadi salah tingkah, segera kualihkan pandanganku ke depan. Lalu kesunyian sesaat terasa, namun aku masih merasakan debar didadaku.
Sesampainya di depan Kampus Peter membukakan pintu mobil untukku, lalu menggandeng tanganku sembari melangkah, sesampainya di depan pintu tempat pesta aku menghentikan langkahku sejenak.
“Kenapa?,” Tanya Peter padaku.
“Janji kamu nggak akan meninggalkanku didalam, aku nggak kenal siapa pun disana selain kamu,” jawabku.
Peter tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lalu kami pun kembali melangkah memasuki ruangan. Dan…tak satu pun yang kukenal disana. Tanpa kusadari tangan Peter kugenggam dengan erat. Rasanya seperti kembali ke masa lalu ketika aku kuliah dahulu, aku termasuk yang jarang menghadiri pesta. Peter mengenalkanku pada teman – teman dan ketiga sepupunya, semuanya ramah kepadaku. Peter pamit sebentar padaku meninggalkanku dengan sepupunya.
“Peter selalu menceritakan dirimu kepada kami,” ujar Bryan sambil menawarkanku kue.
“Semoga bukan yang aneh – aneh,” jawabku sambil mengambil kue tersebut sebuah lalu tersenyum.
“Tidak, dia katakan kalau kamu wanita yang dia cari selama ini,” ujar Andrew.
Aku membelalakkan mataku sembari menatap mereka, aku tak tahu apa warna wajahku saat ini. Ya Tuhan….Freya benar apa lagi yang kucari.
“Dia akan menunggumu. Itu yang dia katakan,” kata Bryan lagi.
Lalu Peter datang percakapan kami pun terhenti. Ketiganya pun pamit untuk berbaur dengan yang lain. Sembari melangkah Bryan mengacungkan dua jempolnya kearah kami berdua sembari tersenyum. Aku dan Peter tersenyum melihatnya kemudian dia membawaku katanya ingin mengenalkanku pada dosen pembimbingnya, kami pun berjalan ke sudut ruangan tersebut disana terlihat beberapa lelaki dan wanita. Peter menepuk pelan pundak lelaki yang membelakangi kami, alangkah kaget bercampur senang hatiku saat kumelihat begitu membalikkan badannya ternyata dia pak Wright dosenku dahulu.
“Cindy….how are you??,” tanyanya sembari mengulurkan tangannya.
“Im fine sir, anda masih ingat dengan saya” jawabku lalu menyambut uluran tangannya.
“Off course, bagaimana mungkin saya bisa lupa. Kamu salah satu mahasiswa yang berprestasi dibawah bimbinganku,” jawabnya antusias.
“Bapak bisa saja, sudah lama anda pindah ke Universitas ini pak?, " tanyaku lagi.
"Ya, sejak angkatanmu lulus semua, aku mendapatkan tawaran mengajar disini. Tanpa berpikir dua kali aku langsung mengiyakan, lagi pula disini fasilitas disini lebih lengkap."
"Pastinya dananya juga kan pak," jawabku sambil bercanda.
Dia tertawa dan mengiyakan. Sesaat kemudian kami bertiga larut dalam percakapan, sampai akhirnya pak Wright diminta ke depan untuk mengumumkan sesuatu. Ternyata pesta ini diadakan untuk menggalang dana untuk penelitian yang dilakukan oleh Universitas. Setelah serangkaian acara dilalui saatnya untuk bersantai dan menikmati hidangan yang telah disediakan dan juga bagi yang ingin berdansa. Saat itulah Peter mengajakku ke salah satu bangunan yang ada di kampusnya, sesampainya disana Peter benar dari tempat itu bulan terlihat begitu jelas dan indah sekali.
"Aku selalu kesini bila ingin mencari ketenangan dan membuat tugasku," katanya sambil menatap bulan purnama. Lalu menatapku kemudian dengan cepat meraih kedua tanganku lalu berkata "Cindy…aku ingin jawabmu."
Aku mengerti arah pembicaraannya, dan entah kekuatan dari mana hingga kumampu menatap dalam – dalam sepasang mata biru yang ada dihadapanku saat ini, sesaat hening terasa diantara kami berdua. Setelah menarik nafas dan menghembuskannya kembali aku pun menganggukkan kepala sembari tersenyum, sesaat kemudian aku sudah berada dalam pelukan hangat Peter rasanya waktu seperti berhenti berputar, aku merasa begitu aman didalamnya.
Aku mendongkakkan kepalaku kearahnya lalu bertanya "Kenapa aku ?."
"Aku menemukan yang kucari dirimu," jawabnya sambil masih memelukku erat.
"Apa ?."
"Secret."
Aku pura – pura cemberut, lalu kami berdua tertawa bersama kemudian dikecupnya dengan lembut keningku. Tak terasa airmataku menetes, airmata bahagia, aku tak bisa mengungkapkan semua dengan kata saat ini. Peter menghapusnya untukku. Kemudian kami pun meninggalkan tempat itu kembali menuju ruangan pesta, disana kami kembali berbaur dengan yang lainnya. Karena malam kian larut dan aku pun mulai merasa mengantuk kami berdua pun pulang, dimobil aku tak kuasa menahan kantukku aku tertidur dan terbangun saat Peter membangunkanku ketika kami telah tiba di cafĂ© plus rumahku. Setelah kubuka pintu Peter pun pamit untuk pulang setelah sebelumnya dia kembali mengecup keningku sembari mengucapkan "I love you, dream of me toninght." Kemudian dia pun berlalu. Aku pun segera menapaki tangga menuju kamar untuk segera mengganti pakaianku dan pergi tidur.
Hari ini Peter mengajakku untuk bertemu dengan orang tua dan keluarganya, aku benar – benar merasa gugup sekali namun Peter meyakinkanku kalau keluarganya pasti akan menerimaku. Sesampainya disana mereka menyambut dengan hangat rasanya seperti pulang ke rumah. Ibu Peter banyak bercerita saat Peter kecil, dia membawaku melihat album – album kenangan yang tertata rapi dalam sebuah lemari di ruang keluarga. Aku tersenyum melihat foto – foto tersebut tak lama kemudian Amira memanggil kami semua untuk menuju ruang makan menyantap makanan yang telah dihidangkan. Saat asyik menikmati makanan tiba – tiba Peter meminta perhatian sebentar lalu menatapku.

"Honey….sebenarnya sudah lama ini ada didalam benakku untuk menyatakannya kepadamu, tapi kalau aku terlalu lama memendamnya aku akan hanya menyia – nyiakan waktu….." Peter menarik nafas lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, ternyata sebuah cincin dengan permata berwarna putih, diraihnya tanganku lalu memasukkannya ke jari manisku seraya bertanya "Maukah kau menikah denganku?."