Selasa, 29 Maret 2016

HADIRMU (3)

Iseng kubuka Facebook-ku setelah selesai membuat laporan bulanan, berandaku ramai dengan status dan foto-foto postingan teman-temanku. Lalu kutulis sebuah kata tak lama statusku langsung diisi dengan komen mereka yang menanyakan kabarku. Aku senyum-senyum sendiri karenanya. Keasyikanku terhenti ketika pintu ruanganku ada yang mengetuk.
“Masuk.”
Ternyata Rizal. Ia pun duduk disofa yang ada.
“Ada apa Zal?.”
“Mau menawarkan sebuah rencana aku dan Roni.”
“Apa?.”
“Sebentar lagi kan libur akhir tahun nih. Nah aku dan Roni punya ide gimana kalau kita liburan kepantai.”
“Boleh tuh idenya, siapa saja yang ikut?.”
“Sekitar 10 orang yang daftar rata-rata bawa keluarga masing-masing.”
“Rencananya nginap?.”
“Iya dong, satu hari sebelum kita sudah berangkat. Gimana, kamu mau ikut.”
“Aku ikut kalau begitu. Tempat nginapnya dekat pantai?.”
“Iya, aku sama Roni sudah hunting tempatnya. Penginapannya bagus dilengkapi dapur mini per kamarnya, siapa tahu ada yang mau masak sendiri.”
“Sip, aku ikut.”
Rizal tersenyum mendengar jawabanku kemudian menulis namaku didaftar.
“Makasih ya.”
“Sama-sama.”
Aku menuju kulkas yang ada dipojok ruangan mengambil teh dingin yang tersedia didalamnya lalu memberikannya pada Rizal, ia pun mengambil pemberianku lalu meneguknya. Tak sadar kuperhatikan caranya minum, hingga akhirnya Rizal sadar kalau sedang diperhatikan olehku. Segera kualihkan pandanganku kearah lain, lalu duduk disebelahnya.
“Wi, aku boleh tanya sesuatu?.”
“Apa?.”
“Tapi jangan marah ya?.”
“Tergantung pertanyaannya,” selorohku.
“Hm.......”
“Mau tanya apa?.”
“Kamu........pernah nggak kepikiran cari pasangan lagi.”
Aku tersenyum karenanya “Ya kepikiran Zal, bahkan kalau kumpul dengan keluarga aku selalu ditanyakan hal itu.”
“Memangnya kriteria yang gimana?.”
“Nggak ribet sih, yang nyambung komunikasinya, pokoknya ketemu “Klik”nya,” jawabku sambil menggerakkan jari telunjuk dan jari manisku kiri dan kanan.
“Terus........sudah ada ketemu belum dengan yang ada “Klik”nya?,” berondongnya lagi sambil meniru gaya jariku tadi.
“Ada sih, tapi................”
“Kenapa.”
“Nggak tahu dia-nya juga punya rasa yang sama atau nggak.” Karena orang itu kamu Zal, teriak hatiku.
Rizal mengangguk tanda mengerti.
“Kalau kamu,” aku balik bertanya.
“Ada, tapi belum kuutarakan,” jawabnya lugas sambil menatapku tajam. Namun aku tak mengerti apa maknanya.
Oh, no pupus sudah harapanku.
“Kenapa dipendam?,” tanyaku
“Tunggu saat yang tepat.”
“Ok, selamat mengutarakan kalau begitu,” ujarku berusaha tegar.
Lagi-lagi Rizal hanya tersenyum, lalu pamit dan berlalu. Meninggalkanku yang dengan hati nelangsa karenanya. Makanya jangan berharap, desah batinku. Aku kembali duduk dan menatap laptopku dimana Facebook- ku masih menyala, mencoba menghalau rasa galau yang mendera batinku kembali berkomen ria dengan mereka.
Hari dinanti – nanti itu datang juga akhirnya, dengan diantar oleh Kak Nandira menuju tempat titik kumpul dihalaman kantor dimana bis menunggu disana. Memasuki halaman parkir kantor terlihat begitu ramai karena mereka yang ikut membawa serta keluarga masing – masing. Semua sedang sibuk menyusun barang bawaannya masing – masing kedalam bagasi bis. Aku pun segera turun dari mobil dan mengambil tasku dibagian belakang mobil Kak Nandira. Dengan cepat Rizal menghampiriku dan membantuku membawakan barang bawaanku.
“Tasmu cuma ini.”
“Iya, aku cuma sendiri kan.”
Tanpa banyak kata lagi Rizal langsung membawa tasku untuk dimasukkan ke dalam bagasi bis. Aku berpamitan dengan Kak Nandira.
“Berangkat ya Kak,” ujarku sambil mencium pipinya.
“Iya, hati-hati.”
Aku tersenyum lalu melangkahkan kakiku menuju bis dan melambaikan tangan padanya saat telah masuk didalam bis. Kak Nandira pun membalas lambaianku sembari tersenyum. Bis pun mulai berjalan dengan perlahan, Rizal melambaikan tangannya memberi isyarat agar duduk disamping karena memang hanya itu kursi yang tersisa, dan berada dipaling belakang. Meskipun aku kurang suka karena biasanya goncangan lebih terasa namun mau bagaimana lagi.  Segera kuberjalan menuju bangku yang disebelah Rizal dan menghempaskan tubuhku disitu.
“Berapa jam perjalanan kesana?,” tanyaku sambil menawarkan permen yang kubawa kepadanya.
“Sekitar dua jam ,”katanya sambil mengambil permen yang kutawarkan.
“Ok.”
Kuambil headsetku lalu memutar lagu yang ada di handphoneku, kuatur posisi dudukku lalu mengambil buku yang sudah kusiapkan untuk kubaca diperjalanan. Namun tiba – tiba Rizal mencabut headsetku aku agak terkejut jadinya, konsentrasiku buyar seketika pada bacaanku. Aku mengerenyitkan alisku sebagai tanda protes atas apa yang dia lakukan, tetapi dia malah melemparkan senyum usilnya padaku.
“Banyak pemandangan bagus,” jelasnya padaku tanpa merasa bersalah.
“Iya, sih,” jawabku sambil melihat kearah jendela. “Tapi aku mau baca dulu,” lanjutku sambil membuka buku lagi.
“Ya sudah, lanjutkan saja bacanya,” katanya sembari memasang kembali headsetku tanpa diminta, sehingga Roni dan istri yang satu deretan dengan kami tersenyum melihatnya. Aku hanya bisa menggelengkan kepala lalu kembali membaca dan Rizal pun kembali asyik melihat pemandangan dari jendela yang berada disampingnya.
Satu jam setengah sudah perjalanan kami, aktifitas membacaku terhenti saat bis berjalan perlahan memasuki Rumah Makan untuk beristirahat sejenak. Kami pun segera turun untuk membuang penat yang ada. Teman yang membawa anak-anaknya sibuk mengurus anak-anak mereka yang ingin berbelanja camilan, seketika Rumah Makan tersebut jadi riuh akan kehadiran kami.
“Pesan apa?,” tanya Rizal sembari meletakkan tas ranselnya diatas meja.
“Aku belum lapar nih, tapi kalau ada coklat hangat boleh juga.”
Dia pun segera meninggalkan meja dan memesan makanan dan minuman untuk kami berdua. Lalu kembali dengan dua gelas coklat hangat ditangannya kemudian diberikannya padaku gelas yang satunya. Dengan cepat kuseruput minuman tersebut, hangat terasa menjalar dialiran darahku. Sehingga tak kusadari Rizal memandangku lekat saat aku meminumnya dan aku baru menyadari saat gelas kuletakkan diatas meja.
“Menikmati banget,” ujarnya.
“Haha.....aku paling suka coklat hangat.”
I love the way you drink it,” katanya sambil tersenyum.
“Ada-ada saja kamu,” sahutku merasa jengah dengan perkataannya barusan.
Seorang pelayan datang mengantar makanan yang telah dipesan, dengan segera dia menyantap makanan tersebut, sementara aku hanya menikmati sepotong roti isi kacang dan coklat hangat itu. Setelah semua selesai menghabiskan makanan dan minuman kami pun kembali melanjutkan perjalanan.
Ketika bis yang kami tumpangi memasuki daerah tempat penginapan semuanya sudah tak sabar untuk segera bermain-main di pantai . Setelah bis benar-benar berhenti semuanya dengan tak sabar untuk turun, euforia liburan terasa bila sudah seperti ini. Aku segera mengambil tas dan menuju tempat penginapan yang telah dipesan oleh Roni dan Rizal untuk kami semua. Bangunannya menghadap laut nan biru terbuat dari kayu memakai tongkat dibawahnya sehingga agak tinggi diatas pasir. Bergegas aku menuju kamar yang sudah disiapkan, dilengkapi dua kursi dan sebuah meja serta tempat tidur, dan dipojok belakang ada sebuah kitchen set mini dan kompor gas juga peralatan makan dan minum. Setelah mengeluarkan dan menyimpan pakaian dilemari yang tersedia aku melangkahkan kakiku keluar kamar, dimana anak-anak rekan kantor kami sudah bermain-main dipantai mereka dengan cepatnya akrab satu sama lainnya, aku duduk dibangku yang tersedia diteras menikmati ramainya mereka dan pemandangan laut yang begitu indah sambil mengoleskan sunblock yang kubawa di kaki dan tanganku. Pihak pengelola penginapan sedang sibuk menyiapkan segala sesuatunya di ujung penginapan ini untuk menyambut tahun baru nanti malam, membuat suasana semakin riuh dan ramai.
“Nggak gabung?,” tanya Rizal yang sudah berdiri didepan pintu kamarnya dengan kamera ditangannya.
“Suka melihat mereka saja.”
“Jalan yuk,” ajaknya.
“Kemana?.”
“Ke teluk sebelah sana, pemandangannya bagus. Aku mau ambil foto.”
“Boleh, ayo.”
Kami pun menuruni tangga dan berjalan menuju kearah teluk tersebut dengan berjalan perlahan sambil menikmati indah pemandangan yang terpampang dihadapan mata. Baru beberapa langkah, tiba-tiba suara Roni bertanya “Mau kemana?.”

Sontak secara bersamaan kami berdua menjawab dengan menunjuk kearah teluk, dia pun mengangguk tanda mengerti. Lalu dengan usil dia memberikan siulan kepada kami berdua, aku dan Rizal tertawa kecil jadinya, kukibaskan tanganku menghalau godaan Roni. Rizal mulai membidikkan kameranya mencari angel yang bagus, kadang diarahkannya padaku dan aku pun berpose. Benar – benar pemandangan yang indah rasanya lepas segala beban yang ada disaat bekerja. Rizal menyetel  timer pada kamera kemudian meletakkan kamera diatas batu yang berukuran sedang setinggi dadanya. Kami pun berpose dengan gaya kami masing –masing setelah puas berfoto ria kami pun menikmati deburan air laut yang menyapu bibir pantai dan membasahi kaki kami berdua.

Bersambung................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar