Kuberdiri
menghadap jendela menatap pemandangan dibawah sana, karena kantor kami berada
dilantai 11 di gedung ini sehingga aku bisa leluasa memandang. Dibawah sana
kendaraan berseliweran seperti biasa, hari ini matahari benar – benar sumringah
menyinari bumi. Kugeleng-gelengkan kepalaku kekiri dan kanan mencoba mengusir
penat yang baru terasa setelah kami sibuk mempersiapkan bahan untuk Roni yang
akan melakukan presentasi di kantor klien yang rencananya ingin memakai jasa
kami, dan kali ini kami memiliki saingan jadi mau tak mau semuanya harus
dipersiapkan sebaik-baiknya. Roni baru saja bergegas berangkat karena waktu
adalah segalanya, jika tak ingin proyeknya diambil oleh perusahaan lain. Baru
saja kuhempaskan tubuhku dikursi, tiba-tiba handphoneku
berbunyi dari........... Roni?.
“Halo,”
sahutku.
“Wi,
tolong kamu kesini ambil bahannya, kamu saja yang presentasikan, aku terjebak
macet karena didepan ada kecelakaan jadi nggak bisa lewat,” ujarnya diseberang
sana.
“Kalau
disitu macet, lantas gimana lewatnya Ron?,” tanyaku
“Kalau
motor bisa aja lewat, Wi.”
“Tapi
sama siapa? Yang bisa antarkan aku datangin kamu?,” ujarku.......hhh ada-ada saja.
“Bawa
Rizal deh, dia kan makai motor,cepetan ya aku tunggu,” perintahnya.
Lalu
kami saling menutup telpon aku bergegas menuju ruang tempat Rizal berada. Semoga dia ada,batinku berkata. Saat aku
memasuki ruangan dia sedang berbincang dengan Hesti, entah apa yang mereka
bicarakan terlihat akrab sekali. Huuff....kok
aku jadi bete liatnya, desah batinku. Mereka pun menghentikan pembicaraan
ketika melihat aku menghampiri, Hesti pun langsung pamit meninggalkan ruangan.
“Zal,
kamu sibuk nggak? Soalnya aku mau minta tolong nih,” tanyaku
“Nggak,
kenapa?.”
“Mmm....Roni
kejebak macet, jadi dia nggak bisa presentasikan proyek tadi.”
“Ok,
ayo,” jawabnya lalu meraih jaketnya yang digantung disandaran kursi.
“Aku
ambil tas dulu ya,” ujarku sambil mempercepat langkah menuju ruanganku kemudian
mengambil tas. Lalu kami bergegas memasuki lift lalu menuju parkiran motor.
Sesampainya diparkiran aku kebingungan mencari helm, untungnya ada helm
persediaan di ruang satpam. Lalu Rizal pun memacu motornya menuju kearah jalan
dimana Roni berada.
“Pelan-pelan
dikit Zal,” pintaku.
“Kalau
kamu takut, pegangan,” jawabnya.
Pegangan?, dimana? tanya hatiku.
Belum
sempat aku mengeluarkan kata, tiba-tiba Rizal sudah menarik tanganku memberi
arahan agar memeluk pinggangnya. Aku ragu, tapi motornya benar-benar dalam
kecepatan tinggi. Akhirnya aku pasrah memeluk pinggangnya hingga tercium aroma
parfumnya. Hhhmm wanginya enak sekali.
Hingga akhirnya kami pun menemukan Roni yang terjebak kemacetan dikarenakan dua
truk besar yang bertabrakan, sehingga tidak bisa dilewati oleh mobil. Roni
segera menyerahkan bahan presentasi tersebut, lalu kami pun pamit menuju gedung
kantor klien kami. Tapi kali ini Rizal mengurangi kecepatan laju motornya, jadi
bisa rileks aku jadinya. Sesampainya digedung tersebut, kami segera menanyakan
kepada Resepsionist dilantai berapa
ruangan pertemuan tersebut, ternyata berada dilantai lima. Kami berdua pun
bergegas menuju lift, dan...... lift itu sudah penuh dengan beberapa orang bule
yang entah menuju lantai berapa.
“Ayo
lekas, biar aja sesak-sesakkan,” ujar Rizal seraya menarik tanganku merangsek
masuk diantara mereka. Rizal memang sudah terbiasa tidak memanggilku dengan
embel-embel bu, bila berdua.
“Excuse
me,” ujarku dengan mereka.
“It’s
ok,” jawab salah satu diantara mereka.
“Which
floor?,” tanya yang dekat dengan tombol lift.
“Five,please”
sahut Rizal.
Aku
mengambil tempat pojok karena tidak terlalu sempit, namun tetap saja itu sesak
bila berdua. Kurapatkan tubuhku pada dinding lift dan Rizal mengambil posisi
berdiri menghadapku, kami berdiri begitu dekat. Aku jadi salah tingkah dengan
posisi seperti ini Rizal menatapku lekat, tangan kirinya ditopangkannya pada
dinding lift seakan ingin melindungiku dari tubuh para bule tersebut, sehingga
wangi parfumnya kembali tercium olehku.
Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan situasi seperti itu. Tak ada yang
bersuara, kami berdua hanya saling tatap yang terdengar hanyalah tarikan dan
hembusan nafas kami masing-masing, hingga akhirnya pintu lift pun terbuka. Kami
pun keluar setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada mereka. Dengan
berjalan agak cepat segera kami langkahkan kaki menuju ruangan pertemuan
tersebut. Sejenak kuhentikan langkah kakiku sebelum memasuki ruangan.
“Zal,
kamu aja yang presentasikan ya, lagipula kamu juga sudah menguasai tiap
detilnya kan,” pintaku.
“Kamu
yakin?, nanti kalau ada yang salah gimana?.”
“Aku
yakin kamu bisa kok,” jawabku sembari tersenyum.
“Wish
me luck,” katanya sembari menarik nafas panjang lalu menghembuskannya keluar,
seakan mempersiapkan dirinya sebelum memasuki ruangan.
Kemudian
kami memasuki ruangan dimana klien kami sudah menunggu duduk dengan rapinya
disana, segera kami berjabat tangan saling mengenalkan diri masing-masing dan
memberikan penjelasan kenapa bukan Roni yang mempresentasikannya, dan mereka
bisa mengerti dengan hal itu. Lalu Rizal pun mulai melakukan presentasinya, aku
pun mengambil handphone untuk
merekamnya selama presentasi berlangsung. Satu jam berlalu dengan cepat,
sehingga akhirnya Rizal selesai melakukan pekerjaannya. Semoga mereka puas dan melakukan deal, doaku. Mereka terlihat
begitu puas dengan paparan yang dilakukan Rizal barusan dan mengatakan akan
memberikan keputusan siang ini juga. Setelah berbincang-bincang dan menikmati
kudapan yang telah disediakan kami pun pamit untuk kembali kekantor. Disaat
perjalanan kami menuju kantor, tiba-tiba Rizal membelokkan motornya menuju
sebuah rumah makan lalu memarkirkan motornya.
“Aku
lapar Wi, tadi cuma kue aja....sementara tadi aku kayak didepan persidangan rasanya,
hahaha.”
“Masa
sampai segitunya.”
“Asli,
tadi itu presentasiku yang pertama kalinya selama aku bekerja hanya jadi orang
dibalik layar.”
Kami
pun memilih meja yang tersisa, karena memang sedang jam makan siang sehingga
suasana ramai tak lama kemudian seorang pramusaji mendatangi kami sambil
membawa daftar menu makanan. Setelah menentukan menu pilihan masing-masing dia
pun berlalu.
“Tapi
tadi nggak terlihat seperti yang pertama kali tuh,” jawabku menyambung
percakapan yang tertunda barusan.
“Aku
bayangin cuma ada kamu diruangan itu jadi aku merasa lepas aja saat
memaparkannya, hahaha.” Aku cuma bisa tertawa mendengar jawabannya yang
kuanggap kelakar belaka.
Pesanan
kami pun datang dua mangkok sop buntut yang masih panas, hhhmmm keinginanku untuk segera menyantapnya seketika tergugah.
Kami pun mulai menyantapnya, tanpa bicara dengan satu sama lain. Benar-benar
nikmat, sehingga tak terasa peluhku jatuh membasahi dahi dan pelipisku. Tiba –
tiba Rizal mengambil tisu dan menyeka keringatku, aku agak kaget diperlakukan
seperti itu apalagi beberapa orang menatap kearah kami. Aku benar – benar jengah
jadinya, Rizal malah tersenyum penuh arti. Ini
anak kenapa sih?. Akhir – akhir ini dia memang sering memberikan perhatian
dan perlakuan yang kadang tidak kuduga-duga namun aku berusaha untuk gede rasa
mendapati perlakuan dan perhatiannya, walaupun sebenarnya terkadang aku pun
sering memperhatikannya dari jauh. Hanya dari jauh karena aku merasa tak pantas
untuknya disebabkan aku seorang janda. Setelah menghabiskan makanan dan
membayar kami pun beranjak pergi meninggalkan Rumah Makan tersebut kembali
menuju kantor. Setibanya disana Roni sudah menyambut kami berdua dan menyampaikan
bahwa kamilah yang mendapatkan penggarapan proyek tersebut, tentu saja itu
berita yang sangat membahagiakan bagi perusahaan dan itu artinya kami harus
bekerja keras lagi untuk segera mewujudkan dan menyelesaikannya tepat waktu.
Dan itu artinya akan banyak menyita waktu kami juga tentunya.
Hari
minggu yang cerah dan secerah senyum para keponakanku yang asyik bermain, tawa
canda mereka riuh mengisi rumah. Hari ini kami semua berkumpul dirumah orang
tua dan tentunya ada cara makan – makannya. Aku dan kak Nandira sibuk
menyiapkan makanan diatas meja, istri adikku menyiapkan buah-buahan yang dibawa
oleh mereka. Mama dan papa hanya duduk disofa menunggu panggilan dari kami.
Tiba – tiba suara aplikasi Line- ku
berbunyi, dari Rizal yang mengucapkan Happy
Weekend, aku pun membalasnya dengan emoticon lucu, sembari tersenyum kecil.
“Siapa
sih? sampai senyum-senyum gitu,” tanya Nandira penasaran.
“Teman
kak.”
“Hhmm......teman
apa teman?.”
“Teman.”
“Kapan
kamu mikir untuk cari pasangan lagi Wi?,” tiba-tiba Papa menghampiriku.
“Dewi
belum mikir Pa.”
“Calon
pun nggak ada?,” sekarang Mama yang ikut-ikutan bertanya.
Aku
benar – benar selalu diberondong oleh pertanyaan yang selalu sama kalau sudah
acara kumpul begini.
“Kalau
ada, pasti Mama dan Papa yang pertama kali akan Dewi kenalkan,” ujarku berusaha
menghentikan semua pertanyaan mereka. Lalu kami pun mengambil kursi
masing-masing untuk menyantap makanan yang sudah terhidang. Menikmati waktu bersama mereka seperti ini merupakan
hal yang terindah bagiku, karena segala penat dan lelah akan pekerjaan hilang
bersama candaan dan derai tawa bahagia bersama, saling bertukar cerita dan
pikiran dan pastinya moment yang tiada duanya.
Malamnya
kurebahkan tubuhku di tempat tidur, iseng kubuka video rekaman presentasi Rizal beberapa hari yang lalu, entah mengapa ada rasa rindu disudut hatiku padanya.
Dan lagi-lagi Line-ku berbunyi dari
beberapa teman yang menyapa karena lama tak berjumpa juga dari............. Rizal, yang mengucapkan Selamat malam
moga mimpi indah sampai ketemu besok dikantor. Aku menjawab dengan emoticon, ternyata dia juga belum tidur
dan............memikirkanku?, entahlah aku berusaha untuk tidak terbawa perasaan.
Bersambung....................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar