Sabtu, 19 Maret 2016

HADIRMU (2)

Kuberdiri menghadap jendela menatap pemandangan dibawah sana, karena kantor kami berada dilantai 11 di gedung ini sehingga aku bisa leluasa memandang. Dibawah sana kendaraan berseliweran seperti biasa, hari ini matahari benar – benar sumringah menyinari bumi. Kugeleng-gelengkan kepalaku kekiri dan kanan mencoba mengusir penat yang baru terasa setelah kami sibuk mempersiapkan bahan untuk Roni yang akan melakukan presentasi di kantor klien yang rencananya ingin memakai jasa kami, dan kali ini kami memiliki saingan jadi mau tak mau semuanya harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Roni baru saja bergegas berangkat karena waktu adalah segalanya, jika tak ingin proyeknya diambil oleh perusahaan lain. Baru saja kuhempaskan tubuhku dikursi, tiba-tiba handphoneku berbunyi dari........... Roni?.
“Halo,” sahutku.
“Wi, tolong kamu kesini ambil bahannya, kamu saja yang presentasikan, aku terjebak macet karena didepan ada kecelakaan jadi nggak bisa lewat,” ujarnya diseberang sana.
“Kalau disitu macet, lantas gimana lewatnya Ron?,” tanyaku
“Kalau motor bisa aja lewat, Wi.”
“Tapi sama siapa? Yang bisa antarkan aku datangin kamu?,” ujarku.......hhh ada-ada saja.
“Bawa Rizal deh, dia kan makai motor,cepetan ya aku tunggu,” perintahnya.
Lalu kami saling menutup telpon aku bergegas menuju ruang tempat Rizal berada. Semoga dia ada,batinku berkata. Saat aku memasuki ruangan dia sedang berbincang dengan Hesti, entah apa yang mereka bicarakan terlihat akrab sekali. Huuff....kok aku jadi bete liatnya, desah batinku. Mereka pun menghentikan pembicaraan ketika melihat aku menghampiri, Hesti pun langsung pamit meninggalkan ruangan.
“Zal, kamu sibuk nggak? Soalnya aku mau minta tolong nih,” tanyaku
“Nggak, kenapa?.”
“Mmm....Roni kejebak macet, jadi dia nggak bisa presentasikan proyek tadi.”
“Ok, ayo,” jawabnya lalu meraih jaketnya yang digantung disandaran kursi.
“Aku ambil tas dulu ya,” ujarku sambil mempercepat langkah menuju ruanganku kemudian mengambil tas. Lalu kami bergegas memasuki lift lalu menuju parkiran motor. Sesampainya diparkiran aku kebingungan mencari helm, untungnya ada helm persediaan di ruang satpam. Lalu Rizal pun memacu motornya menuju kearah jalan dimana Roni berada.
“Pelan-pelan dikit Zal,” pintaku.
“Kalau kamu takut, pegangan,” jawabnya.
Pegangan?, dimana? tanya hatiku.
Belum sempat aku mengeluarkan kata, tiba-tiba Rizal sudah menarik tanganku memberi arahan agar memeluk pinggangnya. Aku ragu, tapi motornya benar-benar dalam kecepatan tinggi. Akhirnya aku pasrah memeluk pinggangnya hingga tercium aroma parfumnya. Hhhmm wanginya enak sekali. Hingga akhirnya kami pun menemukan Roni yang terjebak kemacetan dikarenakan dua truk besar yang bertabrakan, sehingga tidak bisa dilewati oleh mobil. Roni segera menyerahkan bahan presentasi tersebut, lalu kami pun pamit menuju gedung kantor klien kami. Tapi kali ini Rizal mengurangi kecepatan laju motornya, jadi bisa rileks aku jadinya. Sesampainya digedung tersebut, kami segera menanyakan kepada Resepsionist dilantai berapa ruangan pertemuan tersebut, ternyata berada dilantai lima. Kami berdua pun bergegas menuju lift, dan...... lift itu sudah penuh dengan beberapa orang bule yang entah menuju lantai berapa.
“Ayo lekas, biar aja sesak-sesakkan,” ujar Rizal seraya menarik tanganku merangsek masuk diantara mereka. Rizal memang sudah terbiasa tidak memanggilku dengan embel-embel bu, bila berdua.
“Excuse me,” ujarku dengan mereka.
“It’s ok,” jawab salah satu diantara mereka.
“Which floor?,” tanya yang dekat dengan tombol lift.
“Five,please” sahut Rizal.
Aku mengambil tempat pojok karena tidak terlalu sempit, namun tetap saja itu sesak bila berdua. Kurapatkan tubuhku pada dinding lift dan Rizal mengambil posisi berdiri menghadapku, kami berdiri begitu dekat. Aku jadi salah tingkah dengan posisi seperti ini Rizal menatapku lekat, tangan kirinya ditopangkannya pada dinding lift seakan ingin melindungiku dari tubuh para bule tersebut, sehingga wangi parfumnya kembali tercium olehku.  Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan situasi seperti itu. Tak ada yang bersuara, kami berdua hanya saling tatap yang terdengar hanyalah tarikan dan hembusan nafas kami masing-masing, hingga akhirnya pintu lift pun terbuka. Kami pun keluar setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada mereka. Dengan berjalan agak cepat segera kami langkahkan kaki menuju ruangan pertemuan tersebut. Sejenak kuhentikan langkah kakiku sebelum memasuki ruangan.
“Zal, kamu aja yang presentasikan ya, lagipula kamu juga sudah menguasai tiap detilnya kan,” pintaku.
“Kamu yakin?, nanti kalau ada yang salah gimana?.”
“Aku yakin kamu bisa kok,” jawabku sembari tersenyum.
“Wish me luck,” katanya sembari menarik nafas panjang lalu menghembuskannya keluar, seakan mempersiapkan dirinya sebelum memasuki ruangan.
Kemudian kami memasuki ruangan dimana klien kami sudah menunggu duduk dengan rapinya disana, segera kami berjabat tangan saling mengenalkan diri masing-masing dan memberikan penjelasan kenapa bukan Roni yang mempresentasikannya, dan mereka bisa mengerti dengan hal itu. Lalu Rizal pun mulai melakukan presentasinya, aku pun mengambil handphone untuk merekamnya selama presentasi berlangsung. Satu jam berlalu dengan cepat, sehingga akhirnya Rizal selesai melakukan pekerjaannya. Semoga mereka puas dan melakukan deal, doaku. Mereka terlihat begitu puas dengan paparan yang dilakukan Rizal barusan dan mengatakan akan memberikan keputusan siang ini juga. Setelah berbincang-bincang dan menikmati kudapan yang telah disediakan kami pun pamit untuk kembali kekantor. Disaat perjalanan kami menuju kantor, tiba-tiba Rizal membelokkan motornya menuju sebuah rumah makan lalu memarkirkan motornya.
“Aku lapar Wi, tadi cuma kue aja....sementara tadi aku kayak didepan persidangan rasanya, hahaha.”
“Masa sampai segitunya.”
“Asli, tadi itu presentasiku yang pertama kalinya selama aku bekerja hanya jadi orang dibalik layar.”
Kami pun memilih meja yang tersisa, karena memang sedang jam makan siang sehingga suasana ramai tak lama kemudian seorang pramusaji mendatangi kami sambil membawa daftar menu makanan. Setelah menentukan menu pilihan masing-masing dia pun berlalu.
“Tapi tadi nggak terlihat seperti yang pertama kali tuh,” jawabku menyambung percakapan yang tertunda barusan.
“Aku bayangin cuma ada kamu diruangan itu jadi aku merasa lepas aja saat memaparkannya, hahaha.” Aku cuma bisa tertawa mendengar jawabannya yang kuanggap kelakar belaka.
Pesanan kami pun datang dua mangkok sop buntut yang masih panas, hhhmmm keinginanku untuk segera menyantapnya seketika tergugah. Kami pun mulai menyantapnya, tanpa bicara dengan satu sama lain. Benar-benar nikmat, sehingga tak terasa peluhku jatuh membasahi dahi dan pelipisku. Tiba – tiba Rizal mengambil tisu dan menyeka keringatku, aku agak kaget diperlakukan seperti itu apalagi beberapa orang menatap kearah kami. Aku benar – benar jengah jadinya, Rizal malah tersenyum penuh arti. Ini anak kenapa sih?. Akhir – akhir ini dia memang sering memberikan perhatian dan perlakuan yang kadang tidak kuduga-duga namun aku berusaha untuk gede rasa mendapati perlakuan dan perhatiannya, walaupun sebenarnya terkadang aku pun sering memperhatikannya dari jauh. Hanya dari jauh karena aku merasa tak pantas untuknya disebabkan aku seorang janda. Setelah menghabiskan makanan dan membayar kami pun beranjak pergi meninggalkan Rumah Makan tersebut kembali menuju kantor. Setibanya disana Roni sudah menyambut kami berdua dan menyampaikan bahwa kamilah yang mendapatkan penggarapan proyek tersebut, tentu saja itu berita yang sangat membahagiakan bagi perusahaan dan itu artinya kami harus bekerja keras lagi untuk segera mewujudkan dan menyelesaikannya tepat waktu. Dan itu artinya akan banyak menyita waktu kami juga tentunya.
Hari minggu yang cerah dan secerah senyum para keponakanku yang asyik bermain, tawa canda mereka riuh mengisi rumah. Hari ini kami semua berkumpul dirumah orang tua dan tentunya ada cara makan – makannya. Aku dan kak Nandira sibuk menyiapkan makanan diatas meja, istri adikku menyiapkan buah-buahan yang dibawa oleh mereka. Mama dan papa hanya duduk disofa menunggu panggilan dari kami. Tiba – tiba suara aplikasi Line- ku berbunyi, dari Rizal yang mengucapkan Happy Weekend, aku pun membalasnya dengan emoticon lucu, sembari tersenyum kecil.
“Siapa sih? sampai senyum-senyum gitu,” tanya Nandira penasaran.
“Teman kak.”
“Hhmm......teman apa teman?.”
“Teman.”
“Kapan kamu mikir untuk cari pasangan lagi Wi?,” tiba-tiba Papa menghampiriku.
“Dewi belum mikir Pa.”
“Calon pun nggak ada?,” sekarang Mama yang ikut-ikutan bertanya.
Aku benar – benar selalu diberondong oleh pertanyaan yang selalu sama kalau sudah acara kumpul begini.
“Kalau ada, pasti Mama dan Papa yang pertama kali akan Dewi kenalkan,” ujarku berusaha menghentikan semua pertanyaan mereka. Lalu kami pun mengambil kursi masing-masing untuk menyantap makanan yang sudah terhidang. Menikmati waktu bersama mereka seperti ini merupakan hal yang terindah bagiku, karena segala penat dan lelah akan pekerjaan hilang bersama candaan dan derai tawa bahagia bersama, saling bertukar cerita dan pikiran dan pastinya moment yang tiada duanya.
Malamnya kurebahkan tubuhku di tempat tidur, iseng kubuka video rekaman presentasi Rizal beberapa hari yang lalu, entah mengapa ada rasa rindu disudut hatiku padanya. Dan lagi-lagi Line-ku berbunyi dari beberapa teman yang menyapa karena lama tak berjumpa juga dari............. Rizal, yang mengucapkan Selamat malam moga mimpi indah sampai ketemu besok dikantor. Aku menjawab dengan emoticon, ternyata dia juga belum tidur dan............memikirkanku?, entahlah aku berusaha untuk tidak terbawa perasaan.
Bersambung....................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar