Jumat, 11 Maret 2016

KETIKA CINTA KEMBALI MENYAPA


Aku membongkar isi lemariku mencari gaun yang tepat untukku, entah kenapa rasanya selalu ada yang tidak tepat, padahal semua gaun itu masih bagus untuk dipakai kembali. Hhhh…..kenapa aku jadi gugup, resah, begini padahal Peter hanya minta ditemani ke acara kampusnya. Dan aku tak mengerti kenapa aku tak mampu menolak permintaannya itu. Freya memandangku sambil berdiri dipinggir pintu kamarku, dia hanya tersenyum melihat tingkahku. Kutatap dia dengan perasaan berkecamuk.
"Yang merah itu bagus kok," ujarnya meyakinkanku.
"Apa warnanya tidak terlalu mencolok," tanyaku sambil memandang gaun tersebut.
"Justru dengan itu kamu bisa jadi pusat perhatian," katanya sambil mendekatiku.
"Freya…..honey, aku cuma menemaninya bukan mau cari jodoh."
"Siapa suruh kamu cari jodoh, jodohmu sudah ada didepan matamu tapi kamu masih meragukannya," ujar Freya sambil membantuku merapikan gaun itu begitu kupasang.
Aku membelalakkan mataku padanya tapi cuek pura – pura tidak tahu. Namun apa yang dikatakannya memang benar adanya, bisik batinku.
Kupandangi bayanganku dicermin ternyata pilihan Freya tidak salah. Im good looking with this dress. Enam bulan yang lalu Peter telah mengungkapkan perasaannya kepadaku, namun kukatakan padanya kalau aku perlu waktu untuk memikirnya Peter pun mengiyakan. Aku ragu karena perbedaan usia diantara kami berdua walaupun hanya tiga tahun, tetapi Peter  tak pernah berhenti meyakinkan diriku bahwa itu bukanlah penghalang dan selama enam bulan ini dia telah membuktikannya. Kuakui dia bukan seperti lelaki pada umumnya yang seusia dirinya, pikirannya dan tindakannya begitu dewasa. Karena itulah Freya selalu mendesakku untuk segera memberikan jawabanku pada Peter. Aku bosan melihat kamu selalu begini, katanya suatu waktu padaku.


"Kamu sudah siap dengan jawabanmu malam ini," ujar Freya sambil membantuku berdandan.
"Kamu yakin dia akan menanyakanku ?."
Freya menganggukkan kepalanya sembari menyapukan blush on di pipiku. Hhh…temanku yang satu ini memang seperti memiliki indra keenam saja. Sesaat kemudian acara berdandan selesai, sekali lagi aku mematut diri dihadapan cermin, perfect. Tinggal menunggu Peter datang. Jantungku berdegup aku seperti anak remaja pada kencan pertamanya. Lima belas menit kemudian Freya memanggilku dari bawah, Peter telah datang. Kutarik lalu kuhembuskan lagi nafasku untuk menghalau rasa gemuruh didadaku. Kuturuni tangga dengan pelan namun pasti dibawah sana Peter  telah menunggu dengan seikat bunga mawar segar dia terlihat begitu tampan dengan tuxedo-nya.Peter memberikanku mawar tersebut, aku menyambutnya dengan suka cita. Tanpa ragu digenggamnya tanganku menuju mobil, kutoleh kepalaku kebelakang kearah Freya, dia tersenyum.
"Have fun," ujarnya.
"We will," jawab Peter.
Sesaat kemudian mobil kami meluncur menuju tempat pesta diadakan. Sambil mengemudikan mobil Peter bertanya padaku "Kamu suka bunganya?."
"Suka, terima kasih. Kamu tidak memintanya dari Amira kan?."
Peter tertawa kecil lalu menjawab "Aku memang memetik dari kebunnya. Tapi dia mengijinkan begitu tahu bunga itu untukmu," sambil menatapku penuh arti.
Ditatap seperti itu aku jadi salah tingkah, segera kualihkan pandanganku ke depan. Lalu kesunyian sesaat terasa, namun aku masih merasakan debar didadaku.
Sesampainya di depan Kampus Peter membukakan pintu mobil untukku, lalu menggandeng tanganku sembari melangkah, sesampainya di depan pintu tempat pesta aku menghentikan langkahku sejenak.
“Kenapa?,” Tanya Peter padaku.
“Janji kamu nggak akan meninggalkanku didalam, aku nggak kenal siapa pun disana selain kamu,” jawabku.
Peter tersenyum lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lalu kami pun kembali melangkah memasuki ruangan. Dan…tak satu pun yang kukenal disana. Tanpa kusadari tangan Peter kugenggam dengan erat. Rasanya seperti kembali ke masa lalu ketika aku kuliah dahulu, aku termasuk yang jarang menghadiri pesta. Peter mengenalkanku pada teman – teman dan ketiga sepupunya, semuanya ramah kepadaku. Peter pamit sebentar padaku meninggalkanku dengan sepupunya.
“Peter selalu menceritakan dirimu kepada kami,” ujar Bryan sambil menawarkanku kue.
“Semoga bukan yang aneh – aneh,” jawabku sambil mengambil kue tersebut sebuah lalu tersenyum.
“Tidak, dia katakan kalau kamu wanita yang dia cari selama ini,” ujar Andrew.
Aku membelalakkan mataku sembari menatap mereka, aku tak tahu apa warna wajahku saat ini. Ya Tuhan….Freya benar apa lagi yang kucari.
“Dia akan menunggumu. Itu yang dia katakan,” kata Bryan lagi.
Lalu Peter datang percakapan kami pun terhenti. Ketiganya pun pamit untuk berbaur dengan yang lain. Sembari melangkah Bryan mengacungkan dua jempolnya kearah kami berdua sembari tersenyum. Aku dan Peter tersenyum melihatnya kemudian dia membawaku katanya ingin mengenalkanku pada dosen pembimbingnya, kami pun berjalan ke sudut ruangan tersebut disana terlihat beberapa lelaki dan wanita. Peter menepuk pelan pundak lelaki yang membelakangi kami, alangkah kaget bercampur senang hatiku saat kumelihat begitu membalikkan badannya ternyata dia pak Wright dosenku dahulu.
“Cindy….how are you??,” tanyanya sembari mengulurkan tangannya.
“Im fine sir, anda masih ingat dengan saya” jawabku lalu menyambut uluran tangannya.
“Off course, bagaimana mungkin saya bisa lupa. Kamu salah satu mahasiswa yang berprestasi dibawah bimbinganku,” jawabnya antusias.
“Bapak bisa saja, sudah lama anda pindah ke Universitas ini pak?, " tanyaku lagi.
"Ya, sejak angkatanmu lulus semua, aku mendapatkan tawaran mengajar disini. Tanpa berpikir dua kali aku langsung mengiyakan, lagi pula disini fasilitas disini lebih lengkap."
"Pastinya dananya juga kan pak," jawabku sambil bercanda.
Dia tertawa dan mengiyakan. Sesaat kemudian kami bertiga larut dalam percakapan, sampai akhirnya pak Wright diminta ke depan untuk mengumumkan sesuatu. Ternyata pesta ini diadakan untuk menggalang dana untuk penelitian yang dilakukan oleh Universitas. Setelah serangkaian acara dilalui saatnya untuk bersantai dan menikmati hidangan yang telah disediakan dan juga bagi yang ingin berdansa. Saat itulah Peter mengajakku ke salah satu bangunan yang ada di kampusnya, sesampainya disana Peter benar dari tempat itu bulan terlihat begitu jelas dan indah sekali.
"Aku selalu kesini bila ingin mencari ketenangan dan membuat tugasku," katanya sambil menatap bulan purnama. Lalu menatapku kemudian dengan cepat meraih kedua tanganku lalu berkata "Cindy…aku ingin jawabmu."
Aku mengerti arah pembicaraannya, dan entah kekuatan dari mana hingga kumampu menatap dalam – dalam sepasang mata biru yang ada dihadapanku saat ini, sesaat hening terasa diantara kami berdua. Setelah menarik nafas dan menghembuskannya kembali aku pun menganggukkan kepala sembari tersenyum, sesaat kemudian aku sudah berada dalam pelukan hangat Peter rasanya waktu seperti berhenti berputar, aku merasa begitu aman didalamnya.
Aku mendongkakkan kepalaku kearahnya lalu bertanya "Kenapa aku ?."
"Aku menemukan yang kucari dirimu," jawabnya sambil masih memelukku erat.
"Apa ?."
"Secret."
Aku pura – pura cemberut, lalu kami berdua tertawa bersama kemudian dikecupnya dengan lembut keningku. Tak terasa airmataku menetes, airmata bahagia, aku tak bisa mengungkapkan semua dengan kata saat ini. Peter menghapusnya untukku. Kemudian kami pun meninggalkan tempat itu kembali menuju ruangan pesta, disana kami kembali berbaur dengan yang lainnya. Karena malam kian larut dan aku pun mulai merasa mengantuk kami berdua pun pulang, dimobil aku tak kuasa menahan kantukku aku tertidur dan terbangun saat Peter membangunkanku ketika kami telah tiba di cafĂ© plus rumahku. Setelah kubuka pintu Peter pun pamit untuk pulang setelah sebelumnya dia kembali mengecup keningku sembari mengucapkan "I love you, dream of me toninght." Kemudian dia pun berlalu. Aku pun segera menapaki tangga menuju kamar untuk segera mengganti pakaianku dan pergi tidur.
Hari ini Peter mengajakku untuk bertemu dengan orang tua dan keluarganya, aku benar – benar merasa gugup sekali namun Peter meyakinkanku kalau keluarganya pasti akan menerimaku. Sesampainya disana mereka menyambut dengan hangat rasanya seperti pulang ke rumah. Ibu Peter banyak bercerita saat Peter kecil, dia membawaku melihat album – album kenangan yang tertata rapi dalam sebuah lemari di ruang keluarga. Aku tersenyum melihat foto – foto tersebut tak lama kemudian Amira memanggil kami semua untuk menuju ruang makan menyantap makanan yang telah dihidangkan. Saat asyik menikmati makanan tiba – tiba Peter meminta perhatian sebentar lalu menatapku.

"Honey….sebenarnya sudah lama ini ada didalam benakku untuk menyatakannya kepadamu, tapi kalau aku terlalu lama memendamnya aku akan hanya menyia – nyiakan waktu….." Peter menarik nafas lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, ternyata sebuah cincin dengan permata berwarna putih, diraihnya tanganku lalu memasukkannya ke jari manisku seraya bertanya "Maukah kau menikah denganku?."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar