Aku membongkar isi lemariku mencari gaun yang tepat
untukku, entah kenapa rasanya selalu ada yang tidak tepat, padahal semua gaun
itu masih bagus untuk dipakai kembali. Hhhh…..kenapa aku jadi gugup, resah,
begini padahal Peter hanya minta ditemani ke acara kampusnya. Dan aku tak
mengerti kenapa aku tak mampu menolak permintaannya itu. Freya memandangku
sambil berdiri dipinggir pintu kamarku, dia hanya tersenyum melihat tingkahku.
Kutatap dia dengan perasaan berkecamuk.
"Yang merah itu bagus kok," ujarnya
meyakinkanku.
"Apa warnanya tidak terlalu mencolok,"
tanyaku sambil memandang gaun tersebut.
"Justru dengan itu kamu bisa jadi pusat
perhatian," katanya sambil mendekatiku.
"Freya…..honey,
aku cuma menemaninya bukan mau cari jodoh."
"Siapa
suruh kamu cari jodoh, jodohmu sudah ada didepan matamu tapi kamu masih
meragukannya," ujar Freya sambil membantuku merapikan gaun itu begitu
kupasang.
Aku
membelalakkan mataku padanya tapi cuek pura – pura tidak tahu. Namun apa yang
dikatakannya memang benar adanya, bisik batinku.
Kupandangi
bayanganku dicermin ternyata pilihan Freya tidak salah. Im good looking with
this dress. Enam bulan yang lalu Peter telah mengungkapkan perasaannya
kepadaku, namun kukatakan padanya kalau aku perlu waktu untuk memikirnya Peter
pun mengiyakan. Aku ragu karena perbedaan usia diantara kami berdua walaupun
hanya tiga tahun, tetapi Peter tak pernah berhenti meyakinkan diriku
bahwa itu bukanlah penghalang dan selama enam bulan ini dia telah
membuktikannya. Kuakui dia bukan seperti lelaki pada umumnya yang seusia
dirinya, pikirannya dan tindakannya begitu dewasa. Karena itulah Freya selalu
mendesakku untuk segera memberikan jawabanku pada Peter. Aku bosan melihat kamu
selalu begini, katanya suatu waktu padaku.
"Kamu sudah
siap dengan jawabanmu malam ini," ujar Freya sambil membantuku berdandan.
"Kamu yakin
dia akan menanyakanku ?."
Freya
menganggukkan kepalanya sembari menyapukan blush on di pipiku. Hhh…temanku yang
satu ini memang seperti memiliki indra keenam saja. Sesaat kemudian acara
berdandan selesai, sekali lagi aku mematut diri dihadapan cermin, perfect.
Tinggal menunggu Peter datang. Jantungku berdegup aku seperti anak remaja pada
kencan pertamanya. Lima belas menit kemudian Freya memanggilku dari bawah,
Peter telah datang. Kutarik lalu kuhembuskan lagi nafasku untuk menghalau rasa
gemuruh didadaku. Kuturuni tangga dengan pelan namun pasti dibawah sana
Peter telah menunggu dengan seikat bunga mawar segar dia terlihat
begitu tampan dengan tuxedo-nya.Peter memberikanku mawar tersebut, aku
menyambutnya dengan suka cita. Tanpa ragu digenggamnya tanganku menuju mobil,
kutoleh kepalaku kebelakang kearah Freya, dia tersenyum.
"Have
fun," ujarnya.
"We
will," jawab Peter.
Sesaat kemudian
mobil kami meluncur menuju tempat pesta diadakan. Sambil mengemudikan mobil
Peter bertanya padaku "Kamu suka bunganya?."
"Suka,
terima kasih. Kamu tidak memintanya dari Amira kan?."
Peter tertawa
kecil lalu menjawab "Aku memang memetik dari kebunnya. Tapi dia
mengijinkan begitu tahu bunga itu untukmu," sambil menatapku penuh arti.
Ditatap seperti
itu aku jadi salah tingkah, segera kualihkan pandanganku ke depan. Lalu
kesunyian sesaat terasa, namun aku masih merasakan debar didadaku.
Sesampainya di
depan Kampus Peter membukakan pintu mobil untukku, lalu menggandeng tanganku
sembari melangkah, sesampainya di depan pintu tempat pesta aku menghentikan
langkahku sejenak.
“Kenapa?,” Tanya
Peter padaku.
“Janji kamu
nggak akan meninggalkanku didalam, aku nggak kenal siapa pun disana selain
kamu,” jawabku.
Peter tersenyum
lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Lalu kami pun kembali melangkah
memasuki ruangan. Dan…tak satu pun yang kukenal disana. Tanpa kusadari tangan
Peter kugenggam dengan erat. Rasanya seperti kembali ke masa lalu ketika aku
kuliah dahulu, aku termasuk yang jarang menghadiri pesta. Peter mengenalkanku
pada teman – teman dan ketiga sepupunya, semuanya ramah kepadaku. Peter pamit
sebentar padaku meninggalkanku dengan sepupunya.
“Peter selalu
menceritakan dirimu kepada kami,” ujar Bryan sambil menawarkanku kue.
“Semoga bukan
yang aneh – aneh,” jawabku sambil mengambil kue tersebut sebuah lalu tersenyum.
“Tidak, dia
katakan kalau kamu wanita yang dia cari selama ini,” ujar Andrew.
Aku
membelalakkan mataku sembari menatap mereka, aku tak tahu apa warna wajahku
saat ini. Ya Tuhan….Freya
benar apa lagi yang kucari.
“Dia akan menunggumu. Itu yang dia katakan,” kata Bryan lagi.
Lalu Peter
datang percakapan kami pun terhenti. Ketiganya pun pamit untuk berbaur dengan
yang lain. Sembari melangkah Bryan mengacungkan dua jempolnya kearah kami
berdua sembari tersenyum. Aku dan Peter tersenyum melihatnya kemudian dia
membawaku katanya ingin mengenalkanku pada dosen pembimbingnya, kami pun
berjalan ke sudut ruangan tersebut disana terlihat beberapa lelaki dan wanita.
Peter menepuk pelan pundak lelaki yang membelakangi kami, alangkah kaget
bercampur senang hatiku saat kumelihat begitu membalikkan badannya ternyata dia
pak Wright dosenku dahulu.
“Cindy….how are
you??,” tanyanya sembari mengulurkan tangannya.
“Im fine sir,
anda masih ingat dengan saya” jawabku lalu menyambut uluran tangannya.
“Off course,
bagaimana mungkin saya bisa lupa. Kamu salah satu mahasiswa yang berprestasi
dibawah bimbinganku,” jawabnya antusias.
“Bapak bisa saja, sudah lama anda pindah ke
Universitas ini pak?, " tanyaku lagi.
"Ya, sejak angkatanmu lulus semua, aku mendapatkan
tawaran mengajar disini. Tanpa berpikir dua kali aku langsung mengiyakan, lagi
pula disini fasilitas disini lebih lengkap."
"Pastinya dananya juga kan pak," jawabku
sambil bercanda.
Dia tertawa dan mengiyakan. Sesaat kemudian kami
bertiga larut dalam percakapan, sampai akhirnya pak Wright diminta ke depan
untuk mengumumkan sesuatu. Ternyata pesta ini diadakan untuk menggalang dana untuk penelitian yang
dilakukan oleh Universitas. Setelah serangkaian acara dilalui saatnya untuk
bersantai dan menikmati hidangan yang telah disediakan dan juga bagi yang ingin
berdansa. Saat itulah Peter mengajakku ke salah satu bangunan yang ada di
kampusnya, sesampainya disana Peter benar dari tempat itu bulan terlihat begitu
jelas dan indah sekali.
"Aku selalu kesini bila ingin mencari
ketenangan dan membuat tugasku," katanya sambil menatap bulan purnama.
Lalu menatapku kemudian dengan cepat meraih kedua tanganku lalu berkata
"Cindy…aku ingin jawabmu."
Aku mengerti arah pembicaraannya, dan entah
kekuatan dari mana hingga kumampu menatap dalam – dalam sepasang mata biru yang
ada dihadapanku saat ini, sesaat hening terasa diantara kami berdua. Setelah
menarik nafas dan menghembuskannya kembali aku pun menganggukkan kepala sembari
tersenyum, sesaat kemudian aku sudah berada dalam pelukan hangat Peter rasanya
waktu seperti berhenti berputar, aku merasa begitu aman didalamnya.
Aku mendongkakkan kepalaku kearahnya lalu bertanya
"Kenapa aku ?."
"Aku menemukan yang kucari dirimu,"
jawabnya sambil masih memelukku erat.
"Apa ?."
"Secret."
Aku pura – pura cemberut, lalu kami berdua tertawa
bersama kemudian dikecupnya dengan lembut keningku. Tak terasa
airmataku menetes, airmata bahagia, aku tak bisa mengungkapkan semua dengan
kata saat ini. Peter menghapusnya untukku. Kemudian kami pun meninggalkan
tempat itu kembali menuju ruangan pesta, disana kami kembali berbaur dengan
yang lainnya. Karena malam kian larut dan aku pun mulai merasa mengantuk kami
berdua pun pulang, dimobil aku tak kuasa menahan kantukku aku tertidur dan
terbangun saat Peter membangunkanku ketika kami telah tiba di café plus
rumahku. Setelah kubuka pintu Peter pun pamit untuk pulang setelah sebelumnya
dia kembali mengecup keningku sembari mengucapkan "I love you, dream of me
toninght." Kemudian dia pun berlalu. Aku pun segera menapaki tangga menuju
kamar untuk segera mengganti pakaianku dan pergi tidur.
Hari ini Peter
mengajakku untuk bertemu dengan orang tua dan keluarganya, aku benar – benar
merasa gugup sekali namun Peter meyakinkanku kalau keluarganya pasti akan menerimaku.
Sesampainya disana mereka menyambut dengan hangat rasanya seperti pulang ke
rumah. Ibu Peter banyak bercerita saat Peter kecil, dia membawaku melihat album
– album kenangan yang tertata rapi dalam sebuah lemari di ruang keluarga. Aku
tersenyum melihat foto – foto tersebut tak lama kemudian Amira memanggil kami
semua untuk menuju ruang makan menyantap makanan yang telah dihidangkan. Saat
asyik menikmati makanan tiba – tiba Peter meminta perhatian sebentar lalu
menatapku.
"Honey….sebenarnya
sudah lama ini ada didalam benakku untuk menyatakannya kepadamu, tapi kalau aku
terlalu lama memendamnya aku akan hanya menyia – nyiakan waktu….." Peter
menarik nafas lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, ternyata sebuah
cincin dengan permata berwarna putih, diraihnya tanganku lalu memasukkannya ke
jari manisku seraya bertanya "Maukah kau menikah denganku?."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar