Aku
terbangun ketika alarm handphoneku yang ada disamping tempat tidurku berbunyi,
jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, dengan malas aku bangun menuju jendela kamar
mengintip keadaan luar yang masih gelap, lalu menuju kamar mandi untuk
menyegarkan badan yang masih terasa penatnya setelah bekerja dan olahraga
kemarin. Setelah selesai mandi, kuberjalan menuju luar kamar, terasa sepi
sekali karena kedua pembantuku yang sepasang suami istri sedang pulang kampung
karena ada kerabatnya yang meninggal dunia. Karena memang hanya kami bertiga
dirumah ini, sepeninggal Andrew suamiku meninggal dunia. Tak sengaja mataku
menatap kalender, tanggal 12 November tepat 2 tahun yang lalu Andrew meninggal
karena pesawat yang ditumpanginya jatuh dan meledak saat sudah berada didarat,
hanya sedikit penumpang yang selamat, awak pesawat pun tak ada yang selamat.
Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu, kusibak tirai jendela untuk memandang
tanaman mawar yang tertata rapi disamping tembok, Pak Darmo selalu merawatnya
dengan baik lalu menghempaskan tubuhku diatas sofa seraya menyeruput segelas
coklat hangat yang baru saja kuseduh. Kuhela nafasku berkali-kali, memoriku
kembali pada saat kejadian itu terjadi, rasanya aku tak percaya saat mendengar penerbangan yang ditumpanginya telah
mengalami kecelakaan, aku seperti tak menginjak bumi saat menerima telepon yang memberitahukan hal
tersebut. Segera aku menuju kantor maskapai penerbangan yang ditumpanginya
untuk memastikan hal itu benar adanya, dengan ditemani Roni rekan sekantorku
kami menuju bandara. Disana sudah riuh dengan sanak saudara para penumpang yang
mencari tahu tentang keberadaan keluarganya masing – masing. Aku pun berusaha
mencari tahu dengan menanyakan ke bagian informasi bagaimana keadaan yang
sebenarnya. Namun mereka pun belum tahu bagaimana keadaan yang sebenar –
benarnya terjadi. Aku hanya mampu berdoa semoga dia berada diantara penumpang yang
selamat tersebut. Setelah sekian lama menunggu barulah pihak maskapai
mengumumkan siapa saja penumpang yang selamat dan tidak. Lututku lemas saat
membaca namanya ada tertera diantara nama penumpang yang tak selamat tersebut.
Aku hampir tak mampu menopang tubuhku, badanku bergetar hebat air mataku mulai
membasahi pipiku, Roni membimbingku menuju bangku kosong yang ada, aku menangis
sejadi – jadinya namun tiada mampu mengeluarkan sedikit pun, kerongkonganku
terasa seperti tercekik. Beberapa saat kemudian keluargaku datang menyusulku,
berusaha menenangkan diriku walaupun mereka bersedih. Tangis semua orang tumpah
ruah disitu, yang terlihat adalah wajah – wajah tak percaya dengan apa yang
telah terjadi. Dan saat pemakaman pun aku masih saja belum bisa menerima kenyataan
bahwa disana adalah Andrew yang terbujur kaku, entah berapa kali aku mengalami
pingsan, aku benar – benar tak mampu menerima kenyataan saat itu.
Lamunanku
memudar saat hangatnya matahari pagi yang masuk lewat jendela menyentuh ujung
kakiku, aku tersadar kemudian menyeruput habis coklatku yang tak lagi hangat.
Kubergegas menuju kamar untuk mengganti pakaianku untuk segera menuju makam
Peter, aku ingin berziarah. Saat aku hendak mengambil kunci mobilku ada sebuah
dompet teronggok disitu.... ah aku
baru saja ingat itu adalah dompet yang kutemukan di gym kemarin saat ingin
mengganti baju. Yang punya pastilah
kebingungan mencarinya, batinku berkata. Sekalian aku akan mengantarkannya
ke alamat yang tertera di Kartu Identitas yang ada didalamnya. Kupacu mobilku
menuju pemakaman, hari ini benar – benar cerah sekali matahari tiada malu –
malu memancarkan sinarnya. Kuputar radio, lalu terdengar suara penyiar radio
yang ramah, menyapa pendengarnya lalu memutarkan lagu Hivi yang saat ini sedang
in, Siapkah Kau Tuk jatuh Cinta Lagi.
Beberapa saat kemudian aku sampai di pemakaman, kulangkahkan kakiku menuju
makam Andrew, terlihat bersih dan rapi karena memang ada petugas yang selalu
membersihkannya. Kududuk disamping makamnya, sambil meletakkan beberapa tangkai
mawar yang kupetik dari taman rumah. Kupanjatkan doa untuknya, lama aku
terduduk disitu sendiri. Tak kuhiraukan para peziarah yang cukup ramai hari
ini, maklum hari libur.
Tanpa
terasa airmataku menetes basahi pipiku, segera kuhapus. Setelah beberapa saat
kurasa cukup, aku pun pamit meninggalkan makam Andrew yang membisu.
Kubuka
dompet yang kutemukan saat telah masuk dimobil untuk melihat kembali alamat
yang ada. Rizal Maulana Jl. Senopati no.
29. Segera kupacu mobilku menuju alamat tersebut, untungnya masih searah
dengan jalur yang kulalui tadi, jadinya aku tak perlu repot memutar arah lagi.
Saat memasuki jalan yang tertera dialamat itu, ku perlambat laju mobilku seraya
memandang kearah kiri dan kananku, aha
itu dia rumahnya. Ku parkirkan mobilku didepan pagar rumah tersebut, pagarnya
terbuka dan ada seorang lelaki yang sedang asyik membersihkan motor lelaki
dengan model yang terbaru dan dalam posisi membelakangi.
“Permisi,”
ujarku
Dia
lalu membalikkan tubuhnya begitu mendengar suaraku, lalu menatapku lekat.
Mungkin karena baru melihat.
“Ya,
kenapa mbak?,” tanyanya sopan.
“Apa
benar ini rumahnya Rizal Maulana?.”
“Iya
betul mbak, kak Rizal nya lagi didalam,” terangnya. “Sebentar ya saya
panggilkan,” ujarnya lalu meninggalkanku menuju rumah. Lalu berteriak memanggil.
Kupandangi
sekeliling, halamannya asri dipojok kanan depan rumah ada beberapa batang bunga
matahari yang mekar dengan sempurna, lalu dipojok lainnya ada sebuah pancuran
air kecil yang selalu mengalirkan air. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan
seseorang, pastinya itu yang bernama Rizal. Lumayan tampan, dengan jenggot yang
sedikit menempel didagunya.
“Ada
yang bisa saya bantu mbak?,” tanyanya dengan senyum pula.
Kuulurkan
tanganku lalu mengenalkan diri “Kenalkan, saya Dewi.”
“Rizal,”
jawabnya sembari menyambut uluran tanganku.
“Kita
duduk diteras aja mbak, harinya lumayan panas,” tawarnya.
“Oke,”
sahutku lalu mengikutinya berjalan menuju teras kemudia duduk dikursi yang ada.
Kubuka
tasku untuk mengambil dompet yang ada didalamnya, lalu berkata “Saya mau
mengembalikan ini,” ujarku menunjukkan dompet miliknya.
“Oh
ya?,” jawabnya terlihat senang sekali. “Makasih ya mbak.”
“Iya,
sama-sama,” jawabku.
“Mbak
nemunya dimana? Kemarin saya kebingungan mencarinya, akhirnya pasrah aja
kehilangan dompetnya, rencananya hari ini mau lapor polisi,” ujarnya panjang
lebar.
“Di
gym didaerah loker penitipan nemunya, isinya dilihat dulu siapa tahu ada yang
kurang,” sahutku juga.
Dia
pun membuka dan melihat isi dompetnya tersebut, lalu menatapku dengan senyum
dan terlihat senang. “Nggak ada yang hilang mbak, sekali lagi terima kasih ya,”
jawabnya.
“Syukurlah,”
jawabku.
“Aduh,
sampai lupa nih tamunya belum disuguhin air, mbak mau minum apa?,” ujarnya
kembali.
“Teh
hangat aja deh, jadi merepotkan, “ jawabku.
“Nggak
kok, sebentar ya,” ujarnya lalu masuk kedalam rumah lalu terdengar percakapan
singkatnya dengan seseorang, mungkin pembantunya. Kemudian dia sudah kembali
duduk disampingku, tak lama kemudian datang seorang wanita usia empat puluh
tahun datang membawa dua cangkir teh hangat dan setoples ukuran sedang yang
berisi kue kering.
“Silahkan
diminum mbak,” tawarnya ibu tersebut dengan sopan padaku lalu berlalu kedalam
rumah.
“Makasih.”
Jawabku sambil tersenyum.
Sesaat
kemudian, kami berdua pun menikmati teh hangat dan kue tersebut, perbincangan
antara kami mengalir begitu saja, seakan sudah kenal lama sebelumnya. Ternyata
dia baru saja Resign dari tempat
kerjanya karena tidak mau dipindahkan ke kantor cabang yang letaknya di
propinsi lain, padahal posisi yang ditawarkan padanya cukup menggiurkan dan
sudah memasukkan lamaran yang ternyata adalah tempat kerjaku. Jangan – jangan
dia melamar diposisi yang kemarin kosong karena staf tersebut sudah masuk usia
purna tugasnya, tebakku dihati. Tiada terasa percakapan kami hampir satu jam, setelah
bertukaran nomor telpon, aku pun pamit untuk pulang.
Senin lagi, dimana semua orang kadang ngedumel dengan hari
ini...... karena kembali dari libur yang selalu terasa kurang. Segera
kumemasuki ruanganku, untuk memastikan persiapan untuk presentasi nanti telah
siap tanpa kurang satu apapun, kuteliti satu per satu, Roni sudah menyiapkan
semuanya dengan baik, walaupun aku tahu dia pasti agak kewalahan karena stafnya
pak Fauzi sudah pensiun. Kuminta stafku agar segera memanggil Roni. Beberapa
saat kemudian Roni sudah ada diruanganku.
“Bagaimana?
Sudah pas buat dipresentasikan?,” tanyanya seraya menghampiriku yang sedang
menghadap meja tempat kami mengadakan rapat kecil biasanya.
“Iya,
sudah pas sesuai yang diinginkan Pak Chandra,” jawabku lalu tersenyum. “Makasih
ya,” lanjutku.
“O
ya, pegawai pengganti pak Fauzi hari ini sudah masuk, tadi dia sudah melapor
dan sudah ada di Divisi IT,” ujarnya Toni.
“Syukurlah
kalau sudah dapat, soalnya Big Bos nggak mau tempat itu lama kosong,” jawabku.
“Tapi aku belum kenal orangnya Ron.”
“Nanti
aku kenalkan,” jawabnya.
Lalu
kami pun menuju ruang pertemuan yang ada di sayap kanan gedung tempat kantor
kami, mempersiapkan segalanya agar nanti saat klien tiba segalanya sudah siap.
Beberapa saat kemudian klien yang kami tunggu pun datang, lalu kami pun mulai
mempresentasikan contoh bangunan yang akan dibangun. Tak terasa 2 jam berlalu
begitu cepat kami tersenyum puas karena klien merasa puas dan senang akan
contoh yang kami berikan dan akan memakai jasa perusahaan kami, dan tentunya
kami akan mendapat bonus selain dari bonus untuk perusahaan. Kemudian kami
mengantar klien tersebut menuju lift, dan mereka pun berpamitan. Aku dan Roni
kompak tersenyum senang.
“Oya,
ayo aku kenalkan ke stafku,” ujarnya kemudian berjalan menuju ruangan
Divisinya.
Disana
ada seorang lelaki yang sedang serius menatap kearah komputer, tangannya tak
henti memainkan mouse menatap program
desain bangunan yang ada didepannya sesekali mengganti fitur yang ada digambar
desain tersebut. Roni menepuk bahunya sembari berkata “ Zal, kenalkan ini bu
Dewi manager disini.”
Dia
pun memutar kursinya dan berdiri, sejenak kami bertatap mata dengan ekspresi
kaget sejenak.
“Rizal
kan?,” tanyaku sambil tersenyum dan mengulurkan tanganku.
“Iya,
siapa lagi, karena ini di kantor jadi
aku panggil bu Dewi ya” jawabnya menyambut uluran tanganku.
“Iya
deh,” kami kembali berjabat tangan untuk kedua kalinya dipertemuan yang kedua
juga.
Roni
memandang kami berdua bergantian tatapannya seakan meminta penjelasan. Aku pun
menjelaskan sebab bagaimana kami bisa saling mengenal, setelah mendengar
kisahku ia pun mengangguk mengerti.
“Baguslah,
jadi aku nggak perlu capek-capek mengenalkan kalian satu sama lain,” ujarnya.
Setelah
beberapa saat berbincang-bincang, aku pun pamit meninggalkan mereka berdua agar
melanjutkan pekerjaan mereka dan berjanji untuk makan siang bersama nantinya.
Bersambung..........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar