Rabu, 16 Maret 2016

HADIRMU

Aku terbangun ketika alarm handphoneku yang ada disamping tempat tidurku berbunyi, jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, dengan malas aku bangun menuju jendela kamar mengintip keadaan luar yang masih gelap, lalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan badan yang masih terasa penatnya setelah bekerja dan olahraga kemarin. Setelah selesai mandi, kuberjalan menuju luar kamar, terasa sepi sekali karena kedua pembantuku yang sepasang suami istri sedang pulang kampung karena ada kerabatnya yang meninggal dunia. Karena memang hanya kami bertiga dirumah ini, sepeninggal Andrew suamiku meninggal dunia. Tak sengaja mataku menatap kalender, tanggal 12 November tepat 2 tahun yang lalu Andrew meninggal karena pesawat yang ditumpanginya jatuh dan meledak saat sudah berada didarat, hanya sedikit penumpang yang selamat, awak pesawat pun tak ada yang selamat. Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu, kusibak tirai jendela untuk memandang tanaman mawar yang tertata rapi disamping tembok, Pak Darmo selalu merawatnya dengan baik lalu menghempaskan tubuhku diatas sofa seraya menyeruput segelas coklat hangat yang baru saja kuseduh. Kuhela nafasku berkali-kali, memoriku kembali pada saat kejadian itu terjadi, rasanya aku tak percaya saat  mendengar penerbangan yang ditumpanginya telah mengalami kecelakaan, aku seperti tak menginjak bumi saat  menerima telepon yang memberitahukan hal tersebut. Segera aku menuju kantor maskapai penerbangan yang ditumpanginya untuk memastikan hal itu benar adanya, dengan ditemani Roni rekan sekantorku kami menuju bandara. Disana sudah riuh dengan sanak saudara para penumpang yang mencari tahu tentang keberadaan keluarganya masing – masing. Aku pun berusaha mencari tahu dengan menanyakan ke bagian informasi bagaimana keadaan yang sebenarnya. Namun mereka pun belum tahu bagaimana keadaan yang sebenar – benarnya terjadi. Aku hanya mampu berdoa semoga dia berada diantara penumpang yang selamat tersebut. Setelah sekian lama menunggu barulah pihak maskapai mengumumkan siapa saja penumpang yang selamat dan tidak. Lututku lemas saat membaca namanya ada tertera diantara nama penumpang yang tak selamat tersebut. Aku hampir tak mampu menopang tubuhku, badanku bergetar hebat air mataku mulai membasahi pipiku, Roni membimbingku menuju bangku kosong yang ada, aku menangis sejadi – jadinya namun tiada mampu mengeluarkan sedikit pun, kerongkonganku terasa seperti tercekik. Beberapa saat kemudian keluargaku datang menyusulku, berusaha menenangkan diriku walaupun mereka bersedih. Tangis semua orang tumpah ruah disitu, yang terlihat adalah wajah – wajah tak percaya dengan apa yang telah terjadi. Dan saat pemakaman pun aku masih saja belum bisa menerima kenyataan bahwa disana adalah Andrew yang terbujur kaku, entah berapa kali aku mengalami pingsan, aku benar – benar tak mampu menerima kenyataan saat itu.

Lamunanku memudar saat hangatnya matahari pagi yang masuk lewat jendela menyentuh ujung kakiku, aku tersadar kemudian menyeruput habis coklatku yang tak lagi hangat. Kubergegas menuju kamar untuk mengganti pakaianku untuk segera menuju makam Peter, aku ingin berziarah. Saat aku hendak mengambil kunci mobilku ada sebuah dompet teronggok disitu.... ah aku baru saja ingat itu adalah dompet yang kutemukan di gym kemarin saat ingin mengganti baju. Yang punya pastilah kebingungan mencarinya, batinku berkata. Sekalian aku akan mengantarkannya ke alamat yang tertera di Kartu Identitas yang ada didalamnya. Kupacu mobilku menuju pemakaman, hari ini benar – benar cerah sekali matahari tiada malu – malu memancarkan sinarnya. Kuputar radio, lalu terdengar suara penyiar radio yang ramah, menyapa pendengarnya lalu memutarkan lagu Hivi yang saat ini sedang in, Siapkah Kau Tuk jatuh Cinta Lagi. Beberapa saat kemudian aku sampai di pemakaman, kulangkahkan kakiku menuju makam Andrew, terlihat bersih dan rapi karena memang ada petugas yang selalu membersihkannya. Kududuk disamping makamnya, sambil meletakkan beberapa tangkai mawar yang kupetik dari taman rumah. Kupanjatkan doa untuknya, lama aku terduduk disitu sendiri. Tak kuhiraukan para peziarah yang cukup ramai hari ini, maklum hari libur. 
Tanpa terasa airmataku menetes basahi pipiku, segera kuhapus. Setelah beberapa saat kurasa cukup, aku pun pamit meninggalkan makam Andrew yang membisu.
Kubuka dompet yang kutemukan saat telah masuk dimobil untuk melihat kembali alamat yang ada. Rizal Maulana Jl. Senopati no. 29. Segera kupacu mobilku menuju alamat tersebut, untungnya masih searah dengan jalur yang kulalui tadi, jadinya aku tak perlu repot memutar arah lagi. Saat memasuki jalan yang tertera dialamat itu, ku perlambat laju mobilku seraya memandang kearah kiri dan kananku, aha itu dia rumahnya. Ku parkirkan mobilku didepan pagar rumah tersebut, pagarnya terbuka dan ada seorang lelaki yang sedang asyik membersihkan motor lelaki dengan model yang terbaru dan dalam posisi membelakangi.
“Permisi,” ujarku
Dia lalu membalikkan tubuhnya begitu mendengar suaraku, lalu menatapku lekat. Mungkin karena baru melihat.
“Ya, kenapa mbak?,” tanyanya sopan.
“Apa benar ini rumahnya Rizal Maulana?.”
“Iya betul mbak, kak Rizal nya lagi didalam,” terangnya. “Sebentar ya saya panggilkan,” ujarnya lalu meninggalkanku menuju rumah. Lalu berteriak memanggil.
Kupandangi sekeliling, halamannya asri dipojok kanan depan rumah ada beberapa batang bunga matahari yang mekar dengan sempurna, lalu dipojok lainnya ada sebuah pancuran air kecil yang selalu mengalirkan air. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan seseorang, pastinya itu yang bernama Rizal. Lumayan tampan, dengan jenggot yang sedikit menempel didagunya.
“Ada yang bisa saya bantu mbak?,” tanyanya dengan senyum pula.
Kuulurkan tanganku lalu mengenalkan diri “Kenalkan, saya Dewi.”
“Rizal,” jawabnya sembari menyambut uluran tanganku.
“Kita duduk diteras aja mbak, harinya lumayan panas,” tawarnya.
“Oke,” sahutku lalu mengikutinya berjalan menuju teras kemudia duduk dikursi yang ada.
Kubuka tasku untuk mengambil dompet yang ada didalamnya, lalu berkata “Saya mau mengembalikan ini,” ujarku menunjukkan dompet miliknya.
“Oh ya?,” jawabnya terlihat senang sekali. “Makasih ya mbak.”
“Iya, sama-sama,” jawabku.
“Mbak nemunya dimana? Kemarin saya kebingungan mencarinya, akhirnya pasrah aja kehilangan dompetnya, rencananya hari ini mau lapor polisi,” ujarnya panjang lebar.
“Di gym didaerah loker penitipan nemunya, isinya dilihat dulu siapa tahu ada yang kurang,” sahutku juga.
Dia pun membuka dan melihat isi dompetnya tersebut, lalu menatapku dengan senyum dan terlihat senang. “Nggak ada yang hilang mbak, sekali lagi terima kasih ya,” jawabnya.
“Syukurlah,” jawabku.
“Aduh, sampai lupa nih tamunya belum disuguhin air, mbak mau minum apa?,” ujarnya kembali.
“Teh hangat aja deh, jadi merepotkan, “ jawabku.
“Nggak kok, sebentar ya,” ujarnya lalu masuk kedalam rumah lalu terdengar percakapan singkatnya dengan seseorang, mungkin pembantunya. Kemudian dia sudah kembali duduk disampingku, tak lama kemudian datang seorang wanita usia empat puluh tahun datang membawa dua cangkir teh hangat dan setoples ukuran sedang yang berisi kue kering.
“Silahkan diminum mbak,” tawarnya ibu tersebut dengan sopan padaku lalu berlalu kedalam rumah.
“Makasih.” Jawabku sambil tersenyum.
Sesaat kemudian, kami berdua pun menikmati teh hangat dan kue tersebut, perbincangan antara kami mengalir begitu saja, seakan sudah kenal lama sebelumnya. Ternyata dia baru saja Resign dari tempat kerjanya karena tidak mau dipindahkan ke kantor cabang yang letaknya di propinsi lain, padahal posisi yang ditawarkan padanya cukup menggiurkan dan sudah memasukkan lamaran yang ternyata adalah tempat kerjaku. Jangan – jangan dia melamar diposisi yang kemarin kosong karena staf tersebut sudah masuk usia purna tugasnya, tebakku dihati. Tiada terasa percakapan kami hampir satu jam, setelah bertukaran nomor telpon, aku pun pamit untuk pulang.
Senin lagi, dimana semua orang kadang ngedumel dengan hari ini...... karena kembali dari libur yang selalu terasa kurang. Segera kumemasuki ruanganku, untuk memastikan persiapan untuk presentasi nanti telah siap tanpa kurang satu apapun, kuteliti satu per satu, Roni sudah menyiapkan semuanya dengan baik, walaupun aku tahu dia pasti agak kewalahan karena stafnya pak Fauzi sudah pensiun. Kuminta stafku agar segera memanggil Roni. Beberapa saat kemudian Roni sudah ada diruanganku.
“Bagaimana? Sudah pas buat dipresentasikan?,” tanyanya seraya menghampiriku yang sedang menghadap meja tempat kami mengadakan rapat kecil biasanya.
“Iya, sudah pas sesuai yang diinginkan Pak Chandra,” jawabku lalu tersenyum. “Makasih ya,” lanjutku.
“O ya, pegawai pengganti pak Fauzi hari ini sudah masuk, tadi dia sudah melapor dan sudah ada di Divisi IT,” ujarnya Toni.
“Syukurlah kalau sudah dapat, soalnya Big Bos nggak mau tempat itu lama kosong,” jawabku. “Tapi aku belum kenal orangnya Ron.”
“Nanti aku kenalkan,” jawabnya.
Lalu kami pun menuju ruang pertemuan yang ada di sayap kanan gedung tempat kantor kami, mempersiapkan segalanya agar nanti saat klien tiba segalanya sudah siap. Beberapa saat kemudian klien yang kami tunggu pun datang, lalu kami pun mulai mempresentasikan contoh bangunan yang akan dibangun. Tak terasa 2 jam berlalu begitu cepat kami tersenyum puas karena klien merasa puas dan senang akan contoh yang kami berikan dan akan memakai jasa perusahaan kami, dan tentunya kami akan mendapat bonus selain dari bonus untuk perusahaan. Kemudian kami mengantar klien tersebut menuju lift, dan mereka pun berpamitan. Aku dan Roni kompak tersenyum senang.
“Oya, ayo aku kenalkan ke stafku,” ujarnya kemudian berjalan menuju ruangan Divisinya.
Disana ada seorang lelaki yang sedang serius menatap kearah komputer, tangannya tak henti memainkan mouse menatap program desain bangunan yang ada didepannya sesekali mengganti fitur yang ada digambar desain tersebut. Roni menepuk bahunya sembari berkata “ Zal, kenalkan ini bu Dewi manager disini.”
Dia pun memutar kursinya dan berdiri, sejenak kami bertatap mata dengan ekspresi kaget sejenak.
“Rizal kan?,” tanyaku sambil tersenyum dan mengulurkan tanganku.
“Iya, siapa lagi, karena ini di kantor  jadi aku panggil bu Dewi ya” jawabnya menyambut uluran tanganku.
“Iya deh,” kami kembali berjabat tangan untuk kedua kalinya dipertemuan yang kedua juga.
Roni memandang kami berdua bergantian tatapannya seakan meminta penjelasan. Aku pun menjelaskan sebab bagaimana kami bisa saling mengenal, setelah mendengar kisahku ia pun mengangguk mengerti.
“Baguslah, jadi aku nggak perlu capek-capek mengenalkan kalian satu sama lain,” ujarnya.
Setelah beberapa saat berbincang-bincang, aku pun pamit meninggalkan mereka berdua agar melanjutkan pekerjaan mereka dan berjanji untuk makan siang bersama nantinya.
Bersambung..........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar